
Minggu lalu saya menyeberang ke Lampung untuk liputan. Ada beberapa hal yang saya dapati terkait antrean Pelabuhan Merak. Seperti di banyak berita, pemerintah berdalih antrean padat itu membuat Jembatan Selat Sunda sepanjang 29 Km perlu dibangun.
Namun, sebelum melangkah lebih jauh, harus digarisbawahi dulu bahwa antrean panjang itu ternyata hanya ada di Pelabuhan Merak. Sementara di Bakauheni Lampung, ketika saya bepergian pada 18 Juli 2012 lalu sangat sepi.
Catatan lagi, jangan dibandingkan kemacetan pelabuhan dengan kemacetan ‘edisi’ lebaran. Di mana-mana sudah pasti macet kalau lebaran, karena peningkatan volume orang dan kendaraan. Kemacetan di Merak juga lebih banyak terjadi di luar musim pulang kampung.
Setiap hari, Merak berdesak-desakan. Mobil pribadi hampir selalu beradu dengan truk. Mobil yang saya tumpangi harus meliuk-liuk mencari jalan di tengah lautan truk besar-besar yang begitu banyaknya.

Merak, seperti kata orang penyeberangan, adalah pelabuhan di dalam bukit. Lahan parkirnya sangat sempit. Beda dengan Bakauheni yang mampu memuat 3.000 kendaraan. Sempitnya parkir di Mereak adalah alasan pertama pelabuhan itu padat. Sedikit saja truk-truk masuk langsung luber.
Akses ke Merak adalah tol, yang menyebabkan kendaraan begitu cepat tiba di pelabuhan. Jarak antara pelabuhan dengan Jakarta juga boleh dibilang dekat, sehingga truk-truk asal asal Sumatera pulangnya cepat.
Bandingkan dengan truk dari Jawa yang menuju ke Padang, Medan, bahkan Aceh. Bisa seminggu atau dua minggu kemudian mereka baru kembali ke Bakauheni.
Kedua, di Merak, dari lima dermaga yang ada, nyaris cuma dua yang sibuk. Kapal ferry katanya lebih suka bersandar di dua dermaga itu karena ada pemecah ombak. Sehingga tidak oleng ketika bersandar.
Seringkali, kapal ferry yang berangkat dari empat dermaga di Bakauheni disusutkan menjadi dua dermaga saat bersandar di Merak. Otomatis bongkar muat pun menjadi panjang dari selling time sekitar 4 jam dalam sekali perjalanan kapal ferry.

Di Merak, ada praktek ‘nembak’. Siapa yang mau duluan menyeberang, bisa bayar uang ke petugas: Rp 150 ribu. Ini dari pengakuan para sopir. Namun, demikian belakangan praktek itu sudah agak hilang.
Faktor ketiga penyebab Merak macet adalah jumlah kapal. Jumlahnya tidak tambah-tambah dari dulu. Saya pernah ikut sidak Kementerian Perhubungan tahun 2008 lalu. Saat itu jumlah kapal yang ready sekitar 19 setiap hari, itu pun ada kalanya yang harus doking. Sampai tahun 2012 ini, jumlah kapal itu masih sama.
Jadi menurut saya, Merak harus direvitalisasi. Tapi pemerintah selalu saja lambat bergerak. Rencana penambahan dermaga menjadi enam kalau tidak salah sudah dibahas di Kantor Wakil Presiden tahun 2009/2010 lalu. Namun, nyatanya sampai sekarang belum juga dibangun.
Jumlah kapal juga harus ditambahi di jalur pelayaran Merak-Bakauheni. Ada yang bilang, uang Rp 1 triliun untuk studi kelayakan pembangunan Jembatan Selat Sunda sebetulnya bisa untuk beli delapan kapal.

Tidak salah memang kalau ada yang berpendapat Merak dibiarkan overload supaya Jembatan Selat Sunda dibangun. Sebab revitaliasasi pelabuhan itu sangat mungkin dilakukan dibandingkan membangun jembatan yang di level perencanaan saja terjadi ribut terus antar pemerintah.
Tapi Presiden SBY agaknya tetap ngotot jembatan Selat Sunda itu tetap mulai dibangun pada 2014 mendatang, sebelum dia lengser. Jembatan itu potensial mematikan penyeberangan Merak-Bakauheni 10-15 tahun mendatang.
Ada ancang-ancang Lampung mau pindahkan pelabuhan ke Kuta Agung karena ada jembatan nantinya. Tapi apa tetap laku? Jaraknya juga makin jauh.
Itu tadi sekilas tentang kondisi Merak-Bakauheni. Saya berharap ada formula supaya kapal-kapal itu tetap bernapas meski ada jembatan. Supaya kebaharian kita tidak hilang.
