Langitku Rumahku, Menonton Kembali Film Terbaik Era 80-an

26 Mar 2010

Andri & Gempol (monash.edu.au)

Andri & Gempol (monash.edu.au)

Memang layak apabila film ini mendapatkan penghargaan tertinggi bagi insan perfilman Indonesia saat itu. Ceritanya terasa menyentuh disertai dialog-dialog yang lucu. Visualisasinya pun sangat menarik, mengingatkan kembali akan wajah Kota Jakarta dua dekade silam.

Film berjudul “Langitku, Rumahku” itu meraih Piala Citra pada tahun 1989. Film produksi Eka Praya ini disutradarai oleh Slamet Rahardjo dengan Erros Djarot sebagai penata musiknya.

Hampir 21 tahun berlalu, film tersebut kembali diputar di ajang festival film bertema “Sejarah Adalah Sekarang” di Taman Ismail Marzuki (TIM), pekan ini. Acara ini diselenggarakan oleh anak-anak muda pecinta film yang tergabung dalam Kineforum.

“Langitku, Rumahku” bercerita tentang persahabatan dua bocah yang berbeda latar belakang sosialnya. Andri (Banyubiru) adalah murid SD, anak konglomerat, serta tinggal di rumah gedongan dengan empat pembantu. Ia memiliki kakak perempuan, namun ibunya telah tiada.

Sementara Gempol (Soenaryo) adalah anak seorang pemulung. Ia beserta keluarganya tinggal di perkampungan kumuh di pinggiran Jakarta. Gempol pernah mencicipi bangku sekolah di Madiun, Jawa Timur, tempat asalnya. Namun, kemiskinan memaksanya meninggalkan sekolah dan menyusul ayah dan ibunya (Yatie Pesek) merantau ke ibu kota.

Kedua bocah itu bertemu di sekolah Andri. Suatu siang, Gempol yang sehari-hari mencari kertas bekas ini terpergok sedang mengintip pelajaran di kelas Andri. Ia dituduh sebagai maling, meski akhirnya dilepaskan. Gempol memberi julukan Andri “Bung Kecil”.

Persahabatan keduanya bertambah akrab. Bung Kecil sering memberikan majalah-majalah mahal koleksi kakaknya. Tak cuma itu, ia pun ikut ke gubuk teman barunya itu dengan menumpang mobil Mercy yang biasa dipakai untuk mengantarnya ke sekolah. Dari situlah, ia mulai merenungi jurang perbedaan nasib antara dirinya dengan Gempol.

“Aku tidak menyangka Gempol semiskin itu,” kata anak berambut ikal ini kepada supirnya.

Gempol pun merasakan hal yang sama. Melihat Andri memakai seragam sekolah, ia ingin kembali ke Madiun dan meneruskan sekolahnya. Namun, orang tuanya melarang karena alasan tidak mampu membiayai. “Sekolah itu butuh kertas ini,” kata Ranu Besek, ayah Gempol, sambil menunjukkan uang yang ia keluarkan dari kantongnya. “Sedangkan yang kita punya hanyalah kertas bekas,” lanjut dia.

Babak baru persahabatan Andri dan Gempol dimulai ketika perkampungan Gempol digusur oleh Polisi Pamong Praja (Satpol PP) menjelang perayaan 17 Agustusan. Gempol terpisah dari orang tuanya. Ia pun berniat pulang ke Madiun untuk tinggal bersama neneknya.

Iba dengan penderitaan Gempol, saat sekolahnya mengadakan study tour, Andri berpisah dari rombongan dan menemani Gempol ke Madiun tanpa sepegetahuan ayahnya. Dengan penuh keberanian, keduanya menumpang kereta kelas ekonomi.

“Ini namanya apa?” tanya Gempol sambil mengunyah makanan bekal study tour milik Andri. “Itu humberger,” jawab Andri. “Kayak tahu susur (tahu isi), ya. Tapi enak sekali,” timpal Gempol dengan lugu.

Namun, begitu tiba di desanya, Sayem, nenek Gempol, tidak ada dan dikabarkan sudah pindah ke Surabaya. Setelah menginap semalam di rumah bibinya, Gempol dan Andri lantas melanjutkan petualangan ke Kota Pahlawan. Keduanya bertanya ke sana ke mari untuk mencari Sayem, namun tak kunjung ketemu.

Keduanya tidur seadanya di emperan toko dengan para gelandangan dan pangemis. Lama-kelamaan, uang study tour milik Andri menipis. Perbekalan keduanya juga dirampok preman. Akhirnya, dua sahabat itu mencari nafkah dengan menjadi tukang cuci piring serta juru parkir.

Nasib mujur menghampiri justru ketika sang preman kembali ingin berbuat jahat. Andri mengambil dompet preman yang ternyata hasil mencopet itu. Mereka lantas menyerahkan dompet berisi uang Rp 125 ribu dan KTP itu ke pemiliknya dan mendapatkan imbalan. Dengan uang itulah, keduanya kembali ke Jakarta setelah tahu bahwa Andri diberitakan menjadi “anak hilang” di koran.

Setibanya di Stasiun Gambir, Andri dijemput oleh ayahnya yang sangat dibencinya karena sibuk mengurusi bisnis. Takut dengan ayah Andri, Gempol kabur dan bertemu dengan bekas tetangganya ketika tinggal di perkampungan kumuh. Gempol bingung harus tinggal di mana.

“Selama ada langit, kamu tidak perlu menangis. Kita masih punya rumah. Rumah kita luas. Langit kita, rumah kita,” kata lelaki berpakaian kumal dan selalu menyandang gitar tua tersebut.

Namun, di sebuah halte itu, Gempol tidak mau mendengarkan. Ia tetap bertekad ingin menemukan neneknya, sementara ia juga tidak tahu keberadaan ayah dan ibunya sejak penggusuran itu. Namun, kali ini Gempol pulang ke Madiun sendiri, tidak lagi ditemani oleh Bung Kecil.

Film ini ditutup dengan adegan perpisahan yang sangat mengharukan antara dua sahabat. Dengan terengah-engah, Andri mengejar kereta yang dinaiki Gempol sambil membawakan pistol mainan yang dibeli saat mendapat uang imbalan di Surabaya.

Namun, kereta perlahan-lahan mulai mendengus, meninggalkan Stasiun Gambir. Dari ujung gerbong paling belakang, Gempol mengucapkan kalimat perpisahan kepada sahabatnya yang berdiri kaku sambil terisak.

“Aku mau pulang ke desa, mbenerin kursi yang rusak,” kata dia. Kursi di rumah bibi Gempol itu memang rusak akibat diduduki Andri, yang kesulitan buang air besar sambil jongkok.


TAGS


-

Author

Search

Recent Post