Dan Nur Menebus Impiannya

25 Apr 2010

menebus-impianPerayaan hari Kartini tahun ini rasa-rasanya bertambah lengkap dengan hadirnya film ini. Sebuah film yang mengisahkan tentang perjuangan seorang perempuan. Keinginannya tidak muluk-muluk seperti menjadi kepala daerah atau anggota DPR. Ia hanya ingin membantu sang ibu. Tapi siapa sangka, berkat usaha kerasnya, ia mampu meraih kesuksesan yang berlipat-lipat.

Film berjudul “Menebus Impian” garapan sutradara Hanung Bramantyo ini cukup mengena untuk menggambarkan semangat Kartini dalam jiwa perempuan-perempuan masa kini. Kemandirian, pendidikan yang tinggi, karir yang cemerlang, serta kehidupan cinta yang menggairahkan, adalah idealisme perempuan di era modern.

Memang, pandangan miring tentang film berdurasi 120 menit itu tidak bisa disingkirkan begitu saja. Melalui film ini, Hanung dianggap membawa misi mempromosikan bisnis multilevel marketing atau MLM kepada para penonton. Namun, sejatinya film ini mengandung inspirasi serta motivasi yang luar biasa bagi kaum perempuan dengan melihat kegigihan tokoh utamanya untuk lepas dari beban berat sekaligus menciptakan derajat kehidupan yang lebih baik.

Baiklah tidak usah berpanjang-panjang. Langsung saja masuk ke jalan cerita yang dialami Nur Kemala Jati (Acha Septriasa), tokoh utama dalam film itu. Nur hidup bersama ibunya, Sekar (Ayu Diah Pasha), sejak kecil. Ayahnya minggat entah kemana. Keduanya tinggal di perkampungan kumuh di Jakarta. Kontrakan mereka berada di tepi kali yang airnya berwarna hitam pekat.

Sekar berprofesi sebagai buruh cuci. Meski demikian, ia dapat menguliahkan anak semata wayangnya itu di perguruan tinggi. Ia melarang Nur membantunya bekerja, yang penting tekun belajar sehingga lulus menjadi sarjana. Namun, Nur tidak mau tinggal diam dan membiarkan ibunya menanggung kebutuhan keluarga seorang diri.

Nur memang berwatak keras. Ia pun mencari jalan untuk meringankan beban ibunya. Apalagi setelah tahu ibu yang sangat disayanginya itu mulai menunjukkan gejala sakit keras, dan pada saat yang sama, satu-satunya mesin cuci di kontrakan rusak. Mahasiswi ini lantas berburu pekerjaan. Ia melamar ke sana ke mari dan sempat ingin bergabung dengan kedua sahabatnya menjadi penjaga warnet, tapi hasilnya nihil.

Akhirnya Nur memutuskan ikut bisnis MLM (nama MLM-nya tidak usah disebut di sini, ya). Bisnis itu diketahuinya dari Dian Septiadji (Fedi Nuril), yang dikenalnya secara tidak sengaja di warung Pak Madrim (Djaja Mihardja). Awalnya Nur tidak tertarik sama sekali dengan bisnis yang sudah lama dilakoni Dian.

“Modal kamu cuma satu, impian. Semua orang yang sukses diawali dengan impian. Mereka yakin dan bisa menggapai impian itu. Apa impian terbesar kamu Nur?” tanya Dian. “Aku ingin membahagiakan Ibu,” jawab Nur.

Dan Nur pun memulai bisnis barunya itu. Ia menginvestasikan uang semesterannya dan mengambil cuti kuliah. Ini tidak diketahui ibunya. Sebagai pemain baru, Nur tampak bersemangat memprospek banyak orang agar memperoleh downline sebanyak-banyaknya. Namun, bukannya anggota baru atau ‘kaki’ yang didapat, melainkan cibiran yang sangat menyakitkan hati.

“Gue pastinya nggak akan ikutan. Aku milih yang pasti-pasti saja,” kata teman Nur setelah mendengarkan presentasinya. “Amit-amit deh, mendingan gue jadi gigolo aja, Nur,” tanggapan temannya yang lain.

cornwalltubecom21Mendapati penolakan-penolakan dan sikap antipati dari calon member-nya, Nur lemas. Berbarengan dengan itu, ibunya jatuh pingsan. Nur bingung harus membawa ibunya ke rumah sakit atau tidak karena kendala biaya. Namun, sakit ibunya bertambah parah. Sekar rupanya mengidap tumor di batang otak sehingga harus dioperasi. Untuk biaya operasi ibunya itu, Nur meminjam uang dari rentenir dengan bunga yang tinggi. Untuk menutupi hutang, Nur bekerja sebagai pelayan bar.

“Aku nggak butuh semua ini. Aku butuh uang. Aku nggak butuh penolakan-penolakan dan diremehin,” kata Nur saat Dian mencoba membuatnya bertahan di bisnis MLM.

Namun, dengan perasaan sayangnya kepada Nur, Dian berhasil menyakinkan kembali kekasihnya itu. Nur menggeluti lagi bisnis tersebut, mendatangi orang satu-persatu. Meski rasa alergi orang-orang terhadap MLM tetap dijumpai Nur, namun usahanya mulai menampakkan hasil. Jumlah member Nur lumayan, sehingga ia cukup menambah biaya pengobatan ibunya sekaligus mengontrak rumah baru.

“Aku ingin membawa ibu keluar dari sini (kampung kumuh),” ucap Nur suatu ketika.

Satu permasalahan Nur yang tersisa saat itu adalah hutangnya kepada rentenir yang makin bertambah besar. Meski demikian, pasang surut bisnisnya tetap terjadi. Tiba-tiba saja, membernya ‘dicuri’ oleh temannya penjaga warnet untuk ikut ‘money game’. Lilitan utang dan bisnisnya yang menurun membuat Nur stress. Ia sampai membuang buku hariannya yang berisi daftar impian-impian hidupnya. Nur menemui jalan buntu.

Namun, lagi-lagi, Dian hadir saat dia terjatuh dengan tetap membujuk Nur agar terus berjuang di bisnisnya semula. Kondisi keputusasaan berat yang dialami Nur membuat Dian berinisiatif untuk membawa kekasihnya itu bertemu dengan master MLM se-Indonesia. Nur pun mendapatkan pencerahan.

“Impian itu menjijikkan, menyakitkan, dan memuakkan. Impian itu membuat kita lupa dan tidak sadar tentang cara mewujudkannya. Ada ribuan cara untuk meraih dan kita harus memilih. Konsekuensi paling pahit adalah kita putus asa. Saat itu kita bisa saja pindah ke cara lain, tapi kita harus mulai dari awal. Bisnis ini adalah satu dari ribuan yang ada. Tidak ada pilihan tanpa risiko. Tapi orang sukses bisa menyikapi risiko itu. Risiko baginya bukanlah musuh, tapi teman yang setia,” kata sang master.

Singkat cerita, Nur berkeyakinan kembali bahwa ia mampu bangkit dari keterpurukan. Langkahnya kini makin pasti. Melalui tampilan foto-foto yang ada di film itu, karir Nur perlahan lahan tampak cemerlang. Nur menjadi agen MLM yang handal dan hadir dalam tiap-tiap forum berisikan calon member. Jumlah audiens yang hadir pun tidak cuma 5 atau 10 orang, melainkan ratusan orang.

menebus1Pada puncaknya, Nur dinobatkan sebagai agen MLM tersukses dan mendapatkan hadiah mobil mewah dalam sebuah meeting tahunan para anggota MLM. Kebahagiaan Nur dan Ibunya tak berhenti sampai di situ saja. Nur akhirnya dapat menyelesaikan kuliahnya. Sebuah rumah juga mampu ia beli dari kerja kerasnya dalam berbisnis.

“Impian adalah cahaya. Impian adalah kekuatan buat saya. Jangan pernah takut bermimpi. Percayalah, ketika kita sedang berjalan menggapainya, impian itu sedang berlari ke arah kita,” tuturnya.

Menurut Hanung, film ini diambil dari kisah nyata kehidupan temannya saat bersekolah di bangku SMP. Saat itu, sang teman jatuh miskin. Tetapi, saat bertemu lagi beberapa waktu kemudian, dia mendapati temannya tersebut sudah berubah drastis. Kehidupan ekonominya kembali membaik setelah menjalani bisnis MLM.

“Lewat film ini, saya bukan mau mengajak orang ikut MLM. Tapi, cuma pengen orang menengok saja, ada orang yang berjuang untuk keluarganya,” kata pria kelahiran Yogyakarta 1 Oktober 1975, itu, dalam kesempatan wawancara dengan wartawan.

Sumber foto: indofilm2010.blogspot.com, cornwalltube.com


TAGS


-

Author

Search

Recent Post