Kring-kring-kring, di Jakarta Pernah Ada Jalur Sepeda!

26 Jul 2010

Dok Detikcom

Dok Detikcom

Jumlah pengguna sepeda di Jakarta saat ini semakin meningkat jumlahnya. Dapat dilihat dari bertambah pesatnya anggota klub-klub sepeda seperti “Bike to Work” bentukan arsitek Toto Sugiarto.

Selain itu, tiap ada car free day di jalan-jalan protokol Ibu Kota, pengunjung yang datang dengan sepeda juga makin banyak. Mereka sangat senang memanfaatkan jalur bebas kendaraan tersebut untuk menggenjot sepeda.

Seiring pertumbuhan pemakaian “onthel”, muncul tuntutan agar Pemprov DKI Jakarta membangun jalur khusus sepeda. Jalur tersebut dibangun di jalan-jalan yang berada di pusat perkantoran. Pembikinan bikeway itu rencananya juga akan diwujudkan di koridor kantor pemerintahan.

Memang, pembangunan bikeway itu masih wacana. Tapi tahukah Anda di Jakarta pernah ada jalur khusus untuk sepeda? Karena kebutuhan alat transportasi murah tersebut, Presiden Soeharto pernah juga mengatakan Indonesia butuh 2,5 juta onthel!

Ceritanya saya sedang membaca buku berjudul “Burung-burung di Bundaran HI”. Buku ini adalah kumpulan feature zaman dulu karya mantan wartawan Kompas Sindhunata (kini pemimpin majalah filsafat BASIS di Yogyakarta). Nah, romo Sindhunata pernah menulis sepeda sebagai alat transportasi andalan di Jakarta pada tahun 1979.

Menurut salah seorang pedagang sepeda di Jl Sultan Agung, Pasar Rumput, yang diwawancarai Sindhunata, M Jafar, jalur khusus sepeda itu ada di sepanjang ruas Harmoni menuju Kota. Antara tahun 1950-1960 itu, ada pula bikeway dari Stasiun Gambir menuju Harmoni.

Lebar jalur sepeda tersebut cukup untuk enam sepeda. Tidak putusnya sepeda berlalu lalang di jalannya itu. Pengendara sepeda bermacam-macam mulai dari pedagang, pegawai negeri, hingga anak sekolah. Sepeda saat itu barang yang masih mahal. Anak sekolah yang berangkat menunggang sepeda umumnya dari orang yang berada.

Namun, saat diwawancara, Jafar mengatakan, jumlah pengguna sepeda sudah menurun drastis. Tapi tidak dijelaskan apakah tahun 1979 itu jalur sepeda juga dibongkar menyusul menyusutnya jumlah pemakai sepeda. Paling-paling, lanjut Jafar, ada 1-2 pesepeda yang lewat, tapi biasanya pedagang. Anak-anak sekolah yang dulunya bangga, kini malu mengayuh onthel.

Dalam tulisan Sindhunata itu, langkanya pengendara sepeda berimbas pada lesunya perdagangan sepeda. M Slamet, Ketua Gabungan Pedagang Sepeda (GPS) Pasar Rumput, mengatakan, jika sebelumnya sehari bisa menjual 10 sepeda, saat itu, laku dua saja susah. Sepeda-sepeda yang dijual antara lain bermerk Humber, Raleigh, Philips, Gazelle, dan Fongers.

Nah, urai Sindhunata, harapan para pedagang sepeda di Pasar Rumput itu kembali bangkit ketika muncul kabar baik dari Presiden Soeharto. Soeharto mengumumkan, rakyat Indonesia membutuhkan 2.5 juta sepeda pada akhir 70-an itu. Banyak, ya.

Melihat kembali bergairahnya pemakaian sepeda di era modern ini, pemerintah nampaknya harus lebih menaruh perhatian pada pengembangan jalur sepeda. Bersepeda, selain tidak menimbulkan macet, juga mengurangi polusi sehingga udara menjadi segar dan sehat.

Referensi: Sindhunata. Manusia & Keseharian, Burung-Burung di Bundaran HI. Penerbit Buku Kompas, November 2006


TAGS


-

Author

Search

Recent Post