Sepotong Kisah Kehadiran Mikrolet di Jakarta Tahun 1980

28 Jul 2010

Dok Detikcom

Dok Detikcom

Saya masih menyelesaikan membaca buku “Manusia & Keseharian, Burung-burung di Bundaran HI”, yang merupakan kumpulan feature karya Sindhunata. Tulisan-tulisan yang dibuat sepanjang tahun 1978-1993 itu sangat menarik untuk disimak. Seperti yang dikesankan oleh editornya, buku setebal 158 halaman ini laiknya album nostalgia untuk mengenang Jakarta beberapa dasawarsa lalu.

Bagi saya, kumpulan tulisan pemred majalah filsafat BASIS di Yogyarakarta ini sebagian merupakan rekaman sejarah Jakarta, khususnya sejarah perkotaan. Sebagai wartawan Kompas saat itu, Sindhunata berhasil memotret kehidupan sosio-kultural warga Jakarta dengan sangat obyektif.

Sedangkan tulisan lainnya merupakan catatan yang jauh lebih ke belakang dari tema yang sedang ditulis Sindhunata waktu itu. Hal tersebut membuat pembaca menemukan rentang waktu sejarah Jakarta yang juga lebih panjang. Contohnya seperti kisah mengenai moda transportasi mikrolet yang akan diulas kembali di sini.

Mikrolet? Iya, angkutan yang kini memenuhi jalan-jalan ibu kota dan sering dituding menjadi biang kemacetan itu rupanya ada sejarahnya. Mikrolet hadir mengggantikan oplet tahun 1980, atau sekitar 30 tahun yang lalu. Namun, dalam tulisannya yang terbit tahun 1993, romo Sindhunata menggunakan sudut pandang oplet, yang disebutnya masih bertahan pada saat dia menulis.

Sindhunata mengisahkan, pergantian oplet menjadi mikrolet dilakukan dalam sebuah upacara yang cukup mengharukan di pelataran Monumen Nasional (Monas), September 1980. Mengapa mengharukan? Sebab berpisah dari oplet berarti berpisah dari masa lalu Jakarta yang penuh kenangan.

Akan tetapi, oplet-oplet yang penuh kenangan itu telah menjadi renta untuk berlomba dengan tuntutan Jakarta, yang rajin untuk menjadikan dirinya muda. “Tak mungkin kita mengharapkan kekuatan oplet itu. Mereka telah menjadi tua. Saya lihat dimana-mana oplet mulai didorong. Onderdilnya harus disompak, diganti onderdil apa saja asal oplet-oplet itu bisa jalan. Hal itu tidak mungkin dipertahankan,” kata mantan Gubernur DKI Jakarta Tjokropranolo kala itu.

Namun, yang menjadi catatan Shindunata, alih generasi angkutan kota dari oplet menjadi mikrolet itu tidak berjalan mulus. Pemprov DKI Jakarta mengingkari janjinya bahwa sopir oplet mendapatkan prioritas untuk memiliki mikrolet. Syaratnya sudah memiliki oplet lebih dari tiga tahun sebelum mikrolet resmi beroperasi pada 1980.

Di samping itu, untuk menjadi sopir Mikrolet, para eks sopir oplet juga harus membayar uang Rp 500.000. Lantas mereka akan mendapatkan Kredit Investasi Kecil (KIK) berjangka waktu pengembalian 3 tahun dengan bunga 10,5 persen per tahun. Buktinya, kebijakan itu tidak menghasilkan apa yang diharapkan.

“Sejumlah 75 persen dari 200 mikrolet yang dioperasikan pada awal peralihan oplet ke mikrolet ternyata dimiliki oleh orang-orang yang belum lama berkecimpung di dunia oplet,” ujar Sindhunata.

Dalam banyak hal, lanjut dia, mikrolet tidak tidak lagi mewarisi tradisi oplet. Pemilik mikrolet bukan lagi pengusaha kecil, melainkan juragan besar. Jadi kebanyakan pengemudi mikrolet tidak lagi mempunyai hak atas kendaraannya, melainkan berstatus sopir setoran. Hal itu membuat pendapatan mereka tidak lebih besar dari jenis angkutan sebelumnya.

Sindhunata menulis, di awal-awal kehadirannya di Jakarta, mikrolet sudah banyak berbuat ulah. Mikrolet suka main seruduk di Jakarta, sehingga dibilang tidak lebih sopan dari oplet. Oplet jarang sekali ditindak oleh polisi, meski mesinnya kadang ngadat sehingga menambah macet.

Toh, pada akhirnya jumlah mikrolet di Jakarta terus bertambah. Di bagian lain tulisannya, Sindhunata menyebut jumlah armada mikrolet yang beroperasi di tahun-tahun awal itu membengkak menjadi 3.000 unit dan melayani 27 trayek. Mikrolet menjadi moda transportasi yang menyemut jalan-jalan Jakarta dan mulai menjadi biang kemacetan yang baru.

Referensi: Sindhunata. Manusia & Keseharian, Burung-Burung di Bundaran HI. Penerbit Buku Kompas, November 2006


TAGS


-

Author

Search

Recent Post