Wah! Bundaran HI Dihiasi Burung-burung

29 Jul 2010

Dok detikcom

Dok detikcom

Bundaran Hotel Indonesia (HI) adalah salah satu ikon dan pemandangan (view) Jakarta yang sangat terkenal. Kawasan itu terletak di tengah kota serta menjadi pusat pertemuan jalan-jalan protokol antara lain Jl Imam Bondjol, Jl MH Thamrin, serta Jl Jenderal Sudirman.

Di Bundaran HI, terdapat kolam dan air mancur yang sangat mempesona dengan kilatan-kilatan cahaya pada malam hari. Sejumlah gedung pencakar langit, termasuk Hotel Indonesia Kempinski (dulu Hotel Indonesia), yang mengelilinginya, membuat kawasan pedestrian itu makin indah dipandang.

Setiap tahun, Pemprov DKI Jakarta rajin menjaga keindahan landmark Jakarta itu dengan melakukan pemeliharaan bangunan serta kolam. Tahun 2009 lalu, Pemprov menggelontorkan dana APBD hingga Rp 2 miliar untuk perbaikan air mancur Bundaran HI saja. Besar juga, ya!

Memang, telah banyak perubahan-perubahan yang dilakukan untuk mempercantik Bundaran HI, sehingga ’situs’ itu menjadi seperti sekarang ini. Adakalanya penambahan ‘hiasan’ di Bundaran HI tersebut tidak bertahan lamanya dan diganti dengan yang lain. Contohnya saja burung.

Adanya burung-burung di Bundaran HI itu sempat ditulis oleh mantan wartawan Harian Kompas Sindhunata sekitar 30 tahun lalu. Pada tahun 1979, pria yang kini menjadi pemred majalah BASIS di Yogyakarta itu mengatakan, ada sekitar 25 burung di Bundaran HI. Jenisnya macam-macam, antara lain pecuk, kuntul, dan angsa.

Ia tidak tidak menjelaskan apakah burung-burung itu dikurung dalam sangkar raksasa atau bagaimana. Namun, dari kalimatnya berikut ini, agaknya burung-burung itu tidak dilepas-bebas begitu saja.

“Beberapa waktu lalu, tiba-tiba seekor burung lepas lewat celah-celah pagar kolam. Seorang Polantas bingung lalu lari hendak menangkapnya lagi. Lari begitu saja tanpa memperhatikan kanan kiri. Hampir saja ia tertabrak kendaraan yang sedang lewat,” tulis Sindhunata.

Dalam feature-nya yang berjudul “Burung-burung di Bundaran HI” itu, Sindhunata juga tidak menjelaskan secara pasti apa maksud adanya burung-burung itu. Bila untuk eksperimen, katanya, suasana kolam Bundaran HI tidak banyak menolong hewan-hewan itu untuk mempertahankan kehidupannya secara alamiah.

Bila keberadaan burung-burung itu untuk menyemarakkan Bundaran HI, lanjut Sindhunata, sepertinya tidak tepat sasaran. Sebab, tidak banyak pengendaran mobil yang memperhatikan, karena mereka disibukkan dengan keruwetan lalu lintas. Saat itu, Bundaran HI telah macet pula rupanya.

Satu-satunya yang terhibur, ya, polisi yang berjaga di persimpangan besar tersebut. Ia bertutur, “Di tengah lelahnya mengawasi lalu lintas yang lalu lalang kian kemari, memang memandang ulah burung-burung itu seakan-akan lalu bisa memberikan suasana lain, lebih-lebih ketika mereka memberikan makan.”

Sindhunata kasihan melihat nasib burung-burung di Bundaran HI waktu itu. Hewan bersayap ini kepanasan setiap harinya, kebisingan oleh suara mobil, dan terpaksa menikmati polusi kota Jakarta. Alangkah baiknya bisa burung-burung tersebut, menurutnya, dipindahkan ke Taman Margasatwa Ancol atau Ragunan.

“Di kolam Bundaran HI? Lihat saja sendiri, hampir tiada hijau-hijauan tumbuh di sekitar kolam,” ujarnya.

Tulisan terakhir dari seri review buku Sindhunata. Manusia & Keseharian, Burung-burung di Bundaran HI, Penerbit Buku Kompas, Jakarta, Februari 2007.


TAGS


-

Author

Search

Recent Post