Mundur Menghindar di Jalur TransJ

28 Aug 2010

Ilustrasi (Foto Dok detikcom)

Ilustrasi (Foto Dok detikcom)

Inilah budaya berlalu lintas masyarakat: tertib kalau ada petugas. Kalau tidak ada, main serobot sana- sini. Jalanan jadi ajang kompetisi yang menghalalkan segala cara: sikat lampu merah, gasak trotoar, terjang verboden, dan terobos jalur TransJ.

Berlalu lintas di Jakarta, meski dalam kondisi normal, tidak ubahnya aksi balapan liar yang biasa dilakukan anak-anak muda ketika malam hari. Hukum dianggap tidak berlaku lagi kalau sudah nyetir atau menunggang sepeda motor di jalan raya. Begitu ada celah sedikit, aturan-aturan lalu lintas menjadi barang yang langka.

Tertib hanya karena ada petugas, meski petugas pun kini tidak lagi ditakuti. Namun, akan enjadi salah tingkah apabila sebelumnya mengira tidak ada petugas, eh, ternyata mereka ada di ujung jalan. Pengemudi yang sudah melanggar tidak bisa berkutik lagi dengan “jebakan batman” ini. Mau tidak mau surat tilang melayang di atas jidat.

Namun, yang namanya masyarakat Jakarta, selalu ada 1001 cara untuk menghindar. Seperti yang dilakukan oleh 2 pengendara mobil dan 1 penunggung motor ini. Bagi saya, aksi meloloskan diri dari jerat hukum ini sangat unik. Menunjukkan betapa rendahnya kualitas mental dan kesadaran berlalu lintas warga di Jakarta (yang konon) tercinta ini.

Sejak adanya sterilisasi jalur bus TransJakarta awal Agustus 2010 ini, jalur yang memotong 1/3 jalan raya itu benar-benar terlihat bersih. Tidak banyak kendaraan yang masuk ke jalur tersebut. Namun, faktor petugas masih sangat penting. Kalau petugas beristirahat sejenak saja dan tidak menjaga pintu masuk busway, mobil atau motor akan ber-was-wus ria di jalur itu.

Mungkin menjadi strategi petugas untuk membudayakan ketertiban lalu lintas di jalur TransJ. Mereka tidak lagi menjaga jalur TransJ di pangkal jalur, melainkan di ujung. Siapa yang terlanjur kepalang basah, ya, tidak akan bisa lari, kena razia. Namun, hal itu tidak berlaku bagi pengendara mobil mewah Toyota Harrier serta Toyota Avanza di jalur busway Koridor VI (Kampung Melayu-Ancol), tepatnya menjelang fly over Pasar Senen, berikut ini.

Karena melihat ada polisi di ujung jalur, kedua kendaraan yang sudah separuh menghabiskan lajur busway sepanjang 200 meteran itu mundur lagi ke belakang. Kedua mobil itu pun, Harrier di depan Avanza di belakang, kompak menghindari jerat petugas. Ditambah satu motor yang berada paling belakang, kendaraan-kendaraan itu mundur teratur untuk selanjutnya berbaur dengan kemacetan.

Mereka memang akhirnya tidak ditilang oleh polisi. Mungkin 3 polisi yang memakai motor BM tersebut tidak sempat melihat pelanggaran yang dilakukan. Kalau melihat, saya yakin akan ditindak. Sebab, beberapa biker yang tertangkap melanggar jalur TransJ terlihat sedang diurus surat tilangnya. Namun, 3 pengguna jalan itu tetap aman-aman saja melenggang meninggalkan petugas.

Terima atau tidak dengan adanya bus TransJ, sekarang ini larangan masuk ke jalur bus itu sudah menjadi peraturan. Sudah selayaknya peraturan tersebut dipatuhi oleh pengguna jalan. Toh, bus tersebut juga mengangkut masyarakat dalam jumlah lebih banyak, yang juga berhak atas kelancaran lalu lintas.


TAGS


-

Author

Search

Recent Post