Twitter sebagai Sumber Informasi

4 Oct 2010

Memelototi time line twitter saat ini menjadi sesuatu yang wajib bagi wartawan, apalagi wartawan media online. Mem-follow public figur atau newsmaker yang mempunyai akun di situs mikroblogging itu juga menjadi keharusan. Bila mau, wartawan bisa mem-follow sebanyak berapa pun orang di luar sana.

Kenapa? Jawabannya sangat mudah. Karena “kicuan-kicauan” yang diunggah di twitter merupakan salah satu sumber informasi penting dan cepat. Informasi tersebut berbentuk opini dari tokoh publik maupun sebuah peristiwa, yang tentunya harus mempunyai nilai jurnalistik. Kalau tidak, ya, cukup menjadi bahan referensi saja.

Berikut contoh opini di twitter yang dimaksud itu: Staff Khusus Presiden Bidang Bencana Alam dan Bantuan Sosial Andi Arief melalui akunnya, @AndiAriefNew, mengatakan “Gus dur layak mendapat gelar pahlawan nasional. Sebutan apa bagi yg menggulingkannya? #jasagusdur”.

Dari tweet yang diunggah Andi tersebut, kita menjadi tahu pandangannya, yang notabene orang dalam Istana, tentang wacana pengangkatan mantan presiden Abdurrahman Wahid sebagai pahlawan nasional. Memang, belum tentu pendapat Andi itu mewakili sikap istana, namun setidaknya menunjukkan pikiran dari orang dekat presiden.

Dan ini contoh informasi mengenai peristiwa: @nicolausedwin “Di rel kereta api Patal Senayan ada orang Pria ketabrak Kereta, berpotensi kemacetan. http://ping.fm/jqLjm”. Pemilik akun tersebut memberikan informasi singkat mengenai adanya kecelakaan yang dialami seorang pria. Ia ditabrak oleh kereta di Patal Senayan, Jakarta Pusat. Tidak cuma menimbulkan korban jiwa, insiden itu menyebabkan kemacetan panjang di sekitar lokasi.

Kedua informasi di atas memang mengandung news value yang cukup tinggi atau layak untuk diberitakan. Namun, bukan berarti seorang wartawan bisa mengambil begitu saja kandungan informasi dari postingan tersebut, menulis berita, lalu di-upload ke medianya. Beberapa hal ini perlu dilakukan.

Pertama, mengecek validitas akun. Bisa jadi akun yang selama ini kita follow adalah palsu, terutama bila akun tersebut menggunakan nama-nama orang terkenal semisal artis, politisi, atau pejabat publik seperti kepunyaan Andi. Bagaimana mengecek keaslian akun twitter seseorang? Secara teknologi internet, pasti bisa dilakukan. Tapi cara paling mudah adalah dengan menghubungi pemilik akun secara langsung.

Kedua, adalah memverifikasi kebenaran informasi yang diposting dalam sebuah akun. Meski akunnya asli, tidak menutup kemungkinan postingannya tidak. Bagaimana bila seorang yang usil meng-hack akun orang lain lalu menuliskan kata-kata yang mengandung SARA? Bisa pula seseorang mengetahui password akun milik anda misalnya, lalu mengunggah kata-kata bohong.

Untuk mengetahui bobot kebenaran sebuah informasi biasa dilakukan jurnalis dengan menanyakan kepada pemilik akun twitter. Namun, bila informasi itu sebuah peristiwa, bisa jadi seseorang memposting informasi setelah mendengar dari teman atau bahkan surat kabar. Dengan kata lain, informasi itu adalah informasi tangan kedua, ketiga, dan seterusnya.

Oleh sebab itu, supaya informasi tersebut bisa dipercaya, perlu dikroscek kepada sumber-sumber yang berwenang. Dalam kasus kecelakaan KA misalnya, kita bisa membandingkan data itu dengan petugas Daops I atau pejabat-pejabat PT KA. Setelah diketahui informasi tersebut bersifat A1 (sangat-sangat terpercaya), maka sudah dapat dilanjutkan menjadi berita.

Catatan: Tulisan perdana dan sederhana untuk rubrik baru bernama “Jurnalistik Online” di blog ini: http://kageri.blogdetik.com. Izin mengutip akun @AndiAriefNew dan@nicolausedwin sebagai contoh.


TAGS


-

Author

Search

Recent Post