Premanisme juga Subur di Kalangan Pelajar

11 Oct 2010

Pasca terjadinya bentrokan massa di depan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan pada 29 September 2010 lalu, fenomena premanisme kembali disorot. Pejabat baik sipil, kepolisian, maupun TNI silih berganti mengecam aksi-aksi semacam itu.

Pendapat berbeda mengenai penyebab premanisme pun bermunculan. Ada yang menilai premanisme merebak karena faktor kemiskinan, sentimen kedaerahan, hingga relasi sosial yang tidak seimbang. Tapi, semua sependapat kalau premanisme memang harus diberantas.

Sesungguhnya, premanisme itu bukan hanya fenomena orang dewasa, melainkan juga milik para remaja atau pelajar. Ini yang sepertinya agak luput dari perhatian, kemarin, sehingga pembahasannya tidak atau kurang komprehensif. “Perilaku preman” sudah tumbuh di kalangan pelajar sejak lama.

Menurut definisi, premanisme berasal dari bahasa Belanda: vrijman (orang bebas, merdeka) dan isme = aliran. Premanisme merujuk kepada kegiatan sekelompok orang yang mendapatkan penghasilannya terutama dari pemerasan kelompok masyarakat lain.

Anda yang pernah merasakan bangku sekolah pasti tahu adanya sekelompok siswa atau gang yang suka memalak, kan? Biasanya ini dilakukan pelajar senior, yang merasa berkuasa di sekolahan, kepada yunior. Karena diancam secara fisik, korban pasrah begitu saja dan terpaksa menyerahkan uang miliknya.

Namun, dengan mengesampingkan kepentingan ekonomi yang ada dalam definisi tersebut, penggunaan kekerasan fisik di sekolah memang marak. Saat ini, istilah populer untuk menggambarkan terjadinya tindakan itu adalah bullying. Bullying terwujud dalam beberapa klasifikasi, yaitu antara siswa terhadap siswa, kelompok terhadap individu, hingga guru kepada murid.

Bullying juga biasa terlihat di kegiatan-kegiatan siswa baru seperti MOS, Paskibraka, dan ospek. Tidak jarang, kekerasan itu menimbulkan korban jiwa. Sejiwa, Yayasan yang bergerak dalam bidang perlindungan anak, mencatat, jumlah kematian siswa akibat ketiga kegiatan itu berjumlah 10 orang sejak tahun 2007-2009.

Satu lagi aktivitas cap preman yang banyak dilakukan oleh para generasi muda calon penerus bangsa itu, yakni tawuran. Tawuran antar pelajar telah menjadi fenomena sehari-hari yang banyak dijumpai di manapun. Tawuran ini juga tidak jarang memakan korban serta menimbulkan keresahan di masyarakat.

Jumlah tawuran pelajar pun, khususnya di Ibu Kota Jakarta, bukannya menurun, melainkan meningkat dari tahun ke tahun. Data yang dilansir situs wartawarga.gunadarma.ac.id menyebutkan, jumlah aksi tawuran itu masih tinggi. Pelajar SD, SMP, dan SMA, yang terlibat tawuran mencapai 0,08 persen atau sekitar 1.318 siswa dari total 1.647.835 siswa di DKI Jakarta. Bahkan, 26 siswa diantaranya meninggal dunia. Sayang tidak disebutkan tahun data tersebut.

Sebagai contoh tawuran pelajar ini adalah yang sering terjadi di Bulungan, Blok M, Jakarta Selatan, antara pelajar SMA 70 dan 56. Kedua sekolah itu saling berdekatan dan bermusuhan secara abadi. Kalau tawuran, mereka memanfaatkan waktu habis pulang sekolah hingga petang hari. Senjata tajam yang digunakan sama dengan milik preman yang bentrok di depan PN Jaksel. Mengerikan, bukan?

Penanganan premanisme di kalangan pelajar memang gampang-gampang susah, tapi lebih mudah dibandingkan dengan memberantas premanisme orang dewasa. Selain itu, dampak yang dihasilkan akan sangat panjang. Karena dengan menanggulangi kekerasan di kalangan pelajar, berarti mengantisipasi terjadinya kekerasan di masa mendatang.

Sejumlah LSM seperti Sejiwa telah melakukan serangkaian kampanye untuk menghilangkan bullying. Mereka menggelar sejumlah seminar, membuat lagu yang bertemakan “Stop Bullying”. Kegiatan-kegiatan ini patut untuk didukung. Akan tetapi, peran elit pendididikan dan guru-guru di sekolah tentu yang paling diharapkan.


TAGS


-

Author

Search

Recent Post