Sekilas Menonton “The Year of Living Dangerously” di HBO

12 Oct 2010

Ada yang pernah menonton film berjudul “The Year of Living Dangerously”? Saya makin penasaran untuk menyaksikan film yang berlatar belakang situasi politik Indonesia (tepatnya Jakarta) tahun 1965 itu secara utuh.

Terus terang, saya baru tahu adanya film tersebut dari tayangan HBO pada Selasa (12/10). HBO memutarnya 12 hari setelah peringatan tragedi G30S. Entah mengapa meski pelarangan film itu telah dicabut sejak 1999 lalu, HBO tidak memutarnya pada tanggal 30 September atau 1 Oktober?

Namun demikian, film yang dilarang orde baru dengan alasan menggambarkan sejarah yang tidak sesuai ini tetap relevan ditayangkan. Saya jadi membayangkan film ini sejajar, walau kandungan isinya tentu jauh berbeda, dengan film “Pengkhinatan G30S/PKI”. Sama-sama kontroversi dan menimbulkan kegetaran ketika menyaksikan adegan-adegan yang terjadi tahun 1965 itu.

Rasa penasaran makin memuncak ketika mengetahui lebih jauh para bintang yang bermain dalam film tersebut. Tokoh utamanya, Guy Hamilton, diperankan oleh Mel Gibson, bintang kawakan Hollywood. Ia dikabarkan menjadi ‘buronan’ pemerintah Indonesia pasca dirilisnya film pada 1982. Mel menetap di Amerika Serikat (AS) dan menjadi tenar sejak berakting dalam film itu.

Satu lagi artis kondang yang menjadi lawan main Mel, yakni Linda Hunt. Linda memperoleh penghargaan aktris pendukung terbaik pada Academy Award tahun 1983 gara-gara film berdurasi 117 menit tersebut. Linda Hunt memenangkan Piala Oscar pertama yang diberikan kepada pemain yang berperan alih kelamin dengan berperan sebagai laki-laki.

“The Year of Living Dangerously” berkisah mengenai petualangan Hamilton, seorang wartawan Australia, yang ditugaskan meliput suasana Jakarta hingga menjelang meletusnya G30S. Film tersebut dibuat berdasarkan novel karangan Peter Koch dengan judul sama.

Judul tersebut juga merupakan judul pidato kenegaraan Presiden Soekarno tanggal 17 Agustus 1964, “Tahun Vivere Pericoloso”, alias TAVIP. Dalam bahasa Italia, vivere pericoloso berarti “hidup dalam situasi berbahaya”.

Mel Gibson masih terlihat sangat muda dalam film tersebut. Potongan rambutnya pendek dan rapi. Ia selalu tampil mengenakan baju kemeja tebal dengan dua kantong di dada.

Karena dilarang syuting di Indonesia, film ini terpaksa dibuat di Filipina. Maka dari itu, tidak mengherankan bila bila suasana Jakarta tahun 1965 tidak dapat dihadirkan secara sempurna. Beberapa bangunan penting seperti istana negara dan Hotel Indonesia, diganti dengan gedung-gedung di Filipina yang sama sekali tidak cocok dengan situasi Jakarta.

Historitas sinematografi dalam film tersebut hanya ditunjukkan oleh beberapa unsur saja, dan itu diulang-ulang dalam tiap adegannya. Misalnya penampakan poster-poster besar bergambar foto Presiden Soekarno yang dicoreti lambang PKI. Mel tampak berdiri dengan latar belakang poster itu. Lambang PKI berbentuk palu arit juga dimunculkan dalam sebuah adegan demo besar di tahun 1965.

Para figuran dalam film berbahasa Inggris tersebut adalah orang Indonesia. Ada adegan ketika simpatisan PKI ditembak mati di lapangan terbuka oleh tentara. Presiden Soekarno katanya juga muncul dalam salah satu adegan. Ia diperankan oleh Mike Emperio. Namun, karena cuma menonton secara sekilas, munculnya Soekarno tidak sempat saya lihat.

Pesan: Kalau ada teman-teman blogger yang tahu di mana bisa mendapatkan film ini tolong kasih tahu saya, ya. Makasih!

Sumber tambahan termasuk foto: wikipedia


TAGS


-

Author

Search

Recent Post