Senandung Hik di Kota Metropolis Jakarta

29 Nov 2010

hik

Anda yang berasal dari kota-kota seperti Solo, Yogyakarta, atau Semarang pasti mengenal hik. Angkringan nama lainnya. Di ketiga kota itu, juga daerah di sekitarnya, hik bertebaran di mana mana.

Hik boleh disebut pedagang kaki lima. Sebab mangkalnya di tepi jalan pada jam-jam tertentu, biasanya dari sore sampai dini hari. Jarang hik buka 24 jam penuh, bahkan mungkin tidak ada. Pedagang hik seringkali menjajakan dagangannya di sebuah gerobak yang dilengkapi roda sehingga bisa dipindah-pindahkan.

Menu utama hik adalah nasi kucing. Eit, jangan salah sangka, ini bukan nasi yang dicampuri lauk daging kucing. Kalau itu saya juga emoh memakannya. Disebut nasi kucing, karena nasinya dibungkus daun/kertas dalam porsi sedikit, seperti orang Jawa memberi makan kucing kesayangan. Lauk tambahannya antara lain ikan teri, bihun, dan tempe. Semuanya dibubuhi sambal.

Namun, ada banyak menu lain yang menggoda selera selain nasi. Menu itu berupa gorengan (tahu, tempe, pisang, bakwan), sate-satean (sate usus, kulit, dan keong), dan kerupuk. Sebelum disantap, biasanya penggemar nasi kucing meminta penjual untuk memanaskannya di atas tungku yang membara.

Penggemar hik tidak sekadar ketagihan dengan aneka hidangannya. Pembeli, kadang mengunjungi hik karena suasananya cukup asyik untuk nongkrong. Pengunjung bisa berjam-jam berada di hik, padahal ia cuma menyantap beberapa item makanan atau wedang (minuman).

Karena itu, meski harganya murah dan ‘tidak mengenyangkan’ hik disukai oleh segala lapisan masyarakat, tidak terkecuali mahasiswa. Bahkan ada yang menganggap hik adalah tempat makan yang paling pas bagi kantong mahasiswa. Dahulu, ketika masih kuliah di UNS Solo, hik juga menjadi andalan saya dan teman-teman untuk mengisi perut. Tidak perlu jauh-jauh, karena hik banyak ‘menempel’ di dinding kampus dan boulevard.

Itu pengantar. Nah, pengalaman makan dan nongkrong di hik sering menimbulkan rasa kangen bagi penggemarnya yang telah merantau ke kota lain. Hal itulah yang dilirik sebagai peluang berdagang hik oleh sebagian masyarakat Jawa, yang sebenarnya juga perantau. Mereka membuka hik untuk mengobati kerinduan warga sesama kampung halaman.

Di Jakarta, banyak hik-hik yang bermunculan, meski agak susah untuk menemukannya. Yang paling terkenal dan bisa bertahan hingga kini adalah hik yang berada di kawasan Fatmawati, Jakarta Selatan. Saya sendiri belum pernah mencoba, hanya mendengar saja dari cerita teman-teman. Hik tersebut cukup ramai, kadang sampai mengantre.

Namun, belakangan ini, hik juga banyak muncul di sepanjang Jl Pramuka, perbatasan Jakarta Pusat dan Jakarta Timur. Setidaknya ada dua hik, yakni di dekat palang kereta api serta di Taman Pramuka. Selain memasang kursi panjang dari kayu untuk pengunjung, para pedaganganya juga menggelar tikar dan meja kecil untuk lesehan.

Tidak cuma di situ, angkringan yang didisain menyesuaikan situasi metropolis Jakarta juga ada, yakni di daerah Utan Kayu, tidak terpaut jauh dari lokasi pertama. Namun, lokasinya kedua hik itu tidak persis berada di pinggir jalan. Lebih masuk ke dalam dengan area lesehan yang juga lebih luas.

Sembari menikmati hidangan, pengunjung disuguhi alunan musik instrumental. Sadar akan kemajuan teknologi dan untuk lebih memanjakan pengunjung, hik di Utan Kayu itu juga dilengkapi dengan fasilitas wifi. Jadi pengunjung bisa nge-hik sambil nge-net sepuasnya. Tapi, harganya selangit. Nasinya saja 2.000 perak.

Namun, hik modern itu tidak mampu bertahan lama. Tidak sampai setahun, dua hik itu sudah tutup kembali. Ya, tidak tahu apa penyebabnya. Mungkin juga sudah tidak ramai pengunjung, atau modalnya lebih besar dibanding pendapatan alias merugi. Maklum, seperti saya sendiri, berkunjung ke situ karena lebih karena faktor wifi, yang mungkin mahal tagihannya sehingga mereka memutuskan untuk tutup.

Berbeda dengan hik yang berada di tepi jalan, yang menampilkan suasana asli hik seperti di kota asalnya, mereka tetap eksis hingga kini. Pengunjungnya pun masih sangat ramai. Tidak jarang sebelum hari berganti, seluruh jajanannya sudah ludes terjual.

Barangkali, ancaman yang nyata bagi mas-mas penjual nasi kucing itu bukanlah menurunnya pembeli, namun penggusuran oleh Satpol PP. Aturan tata kota yang ketat di Jakarta memang membuat pedagang kali lima harus ‘berjudi’ dalam membuka dan menutup usahanya.

Lain dengan keberadaan hik di Solo dan Yogya, yang jarang ‘diganggu’ oleh pemerintah. Di Solo, Pemda setempat sangat sadar bahwa ekonomi masyarakat bertumpu pada sektor informal, seperti dengan mendirikan hik. Pada saat krisis menghempas Indonesia tahun 1998 lalu, perekonomian masyarakat Solo bisa cepat pulih, ya, dari hasil usaha mendirikan kaki lima.


TAGS


-

Author

Search

Recent Post