‘Panas-Teduh’ Taman Banjarsari di Solo

10 Feb 2011

Pintu gerbang Taman Banjarsari. Sumber foto: Teamlo.net

Pintu gerbang Taman Banjarsari (timlo)

Taman adalah kebutuhan mutlak bagi kota yang mendambakan lingkungannya berkualitas. Taman Banjarsari di Kota Solo, Jawa Tengah, memberikan pelajaran yang tak ternilai tentang betapa pentingnya pemeliharaan maupun penyelamatan taman sebagai ruang terbuka hijau di sebuah kota.

Anda tidak pernah lagi ke Solo selama 5 tahun terakhir dan sekarang ingin mengisi waktu dengan jalan-jalan ke ruang publik bila berkesempatan ke sana? Anda bisa mengunjungi Taman Banjarsari. Sejak 2006 lalu, warga dapat memanfaatkan area terbuka hijau itu seutuhnya, sebab para pedagang kaki lima (PKL) yang bertahun-tahun ‘menduduki’ taman tersebut sudah direlokasi.

Ya, ratusan PKL berikut kios dan dagangannya telah diboyong ke lokasi yang baru, yaitu ke Pasar Klithikan Notoharjo, Kelurahan Semanggi. Jaraknya tidak terlalu jauh untuk ukuran Solo yang belum semacet Jakarta atau Surabaya. Tidak ada satu pun pedagang yang tertinggal. Seluruh PKL yang berjumlah 989 pindah dan mendapatkan tempat yang lebih baik.

Setelah dibersihkan dari PKL, Pemerintah Kota Solo merevitalisasi Taman Banjarsari sebagai salah satu kawasan terbuka hijau di Kota Budaya. Jalan dan pedestrian yang berada di dalam taman direvonasi. Pemkot pun menambahkan fasilitas berupa tempat duduk dan arena permainan untuk anak-anak.

Beruntung, keberadaan PKL tidak sampai merusak pepohonan rindang yang ada di seluruh bagian taman. Sehingga Pemkot tidak perlu menanam banyak pohon untuk menciptakan keteduhan di taman seluas 17.688 meter persegi tersebut. Mereka hanya menanam bunga-bunga saja untuk mempercantik taman.

Pepohonan nan rindang di Taman Banjarsari

Pepohonan nan rindang di Taman Banjarsari (Kageri)

Tidak lupa, Pemkot juga melakukan perawatan pada Monumen ‘45 yang berada di tengah-tengah taman. Monumen setinggi sekitar 10 meter itu dicat ulang dan ditambal bagian-bagiannya yang rusak. Monumen yang diresmikan pada 1976 tersebut dibangun untuk mengenang peristiwa sejarah yang cukup terkenal, yaitu Serangan Umum 4 hari di Solo. Lokasi itu juga dijadikan tempat untuk menyusun strategi oleh overste (letkol) Slamet Riyadi, menjelang kembalinya pasukan Belanda ke Kota Solo saat Agresi Militer Belanda ke II.

Taman Banjarsari kembali menjadi perpaduan yang menarik antara tempat untuk melepaskan kepenatan dan kawasan wisata sejarah. Pengunjung dapat berjalan-jalan menikmati suasana taman sekaligus memperoleh pengetahuan tentang suatu peristiwa sejarah yang terjadi di masa lalu. Kini, ratusan warga Solo memadati Taman Banjarsari setiap sore. Mereka datang sendiri maupun bersama teman dan keluarga. Ada yang sekadar duduk menikmati suasana, bermain, atau berolah raga.

Jogging di Taman Banjarsari (Kageri)

Jogging di Taman Banjarsari (Kageri)

Pacuan Kuda

Taman Banjarsari persisnya terletak di Kelurahan Setabelan, Kecamatan Banjarsari. Taman ini berdekatan dengan Pasar Legi, salah satu pasar tradisional di Solo yang menjual aneka kebutuhan sehari-hari. Taman Banjarsari bisa dicapai dari mana saja, karena berada di persimpangan banyak jalan.

Wilayah Taman Banjarsari dahulunya merupakan bagian dari Kadipaten Mangkunegaran, kerajaan pecahan Kasunanan Surakarta Hadiningrat pasca Perjanjian Giyanti tahun 1755. Menurut sejumlah sumber, lokasi taman tersebut telah ada pada zaman Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara IV. Pada saat itu, Taman Banjarsari masih berwujud arena pacuan kuda, yang dilengkapi dengan tribune tempat para pembesar Mangkunegaran menonton.

Taman Banjarsari tempo dulu (skyscrapercity)

Taman Banjarsari tempo dulu (skyscrapercity)

Sebagai tempat pacuan kuda, Banjarsari awalnya lebih dikenal dengan sebutan Kampung Balapan. Balapan, sebagaimana dipahami juga dalam Bahasa Indonesia, berarti adu kecepatan. Nama Balapan kini melekat kepada stasiun kereta api utama di Kota Solo, yang jaraknya kira-kira 1 Km dari Taman Banjarsari.

Seiring berlalunya waktu, KGPAA Mangkunegara VI (1989-1916) menyewakan lahan di sekitar kawasan tersebut para pegawai Belanda yang bekerja di perkebunan. Masa sewanya selama 25 tahun dan dapat diperpanjang kembali apabila habis. Maka, muncullah rumah-rumah bergaya arsitektur Belanda atau loji. Wilayah itu pun berkembang menjadi lingkungan elit, yang diatur dengan undang-undang tersendiri, yaitu UU tentang Penggunaan Tanah Negara di Surakarta pada 1 November 1913.

Mulai dari periode inilah, Taman Banjarsari juga dikenal dengan nama Villa Park, yang berasal dari kata Villa: rumah bagus, dan Park: taman. Keindahan rumah-rumah milik kompeni itu saat ini masih bisa dilihat di sekitar Taman Banjarsari.

Monumen '45 yang berada di tengah-tengah taman

Monumen '45 yang berada di tengah-tengah taman (Kageri)

Sebelum didirikannya Monumen Perjuangan 45, menurut sejarawan Universitas Sebelas Maret Surakarta (UNS), Soedarmono SU, di taman itu terdapat ponten, yaitu tempat untuk mandi, mencuci dan buang air atau kakus (MCK). Namun, ponten ini umum dibangun di seluruh wilayah Mangkunegara pada masa KGPAA Mangkunegara VII.

Lalu, pada tahun 1973, mulailah Pemkot Solo membangun Monumen 45 dan diresmikan oleh Gubernur Jateng Soepardjo Roestam pada Hari Pahlawan 10 November, 3 tahun kemudian. Pembangunan monumen membuat masyarakat Solo mempunyai ruang publik. Mereka mulai memanfaatkan lokasi tersebut untuk berbagai aktivitas seperti bersantai atau berolah raga.

Krisis Ekonomi

Periode krisis ekonomi yang melanda Indonesia tahun 1997-1998 membawa dampak cukup signifikan terhadap kondisi di Solo, terutama Taman Banjarsari. Krisis membawa sejumlah macam ekses, seperti terganggunya aktivitas perdagangan di Kota Batik dan pemutusan hubungan kerja (PHK) dalam skala besar di sektor industri. Para karyawan yang di-PHK kebingungan untuk mencari nafkah. Mereka lalu mengadu nasib di sektor informal dengan menjadi PKL.

Letaknya yang strategis, banyaknya pengunjung, tersedianya ruang untuk berdagang, serta minimnya pengawasan Pemkot, membuat kawasan Taman Banjarsari menjadi magnet bagi para PKL baru ini. Satu demi satu, mereka mulai menjajakan dagangannya di taman. Jadilah taman itu pasar klitikan. Pada mulanya, para PKL berjualan barang bekas (klitikan), lalu seiring dengan makin banyaknya orang yang berdagang, jenis barang yang dijual pun beraneka ragam.

Trotoar di Taman Banjarsari yang dahulunya dipenuhi PKL (Kageri)

Trotoar di Taman Banjarsari yang dahulunya dipenuhi PKL (Kageri)

Berdasarkan data yang dimiliki Tim City Development Strategy (CDS) tahun 2003, jumlah PKL yang beroperasi di Taman Banjarsari mencapai 610. Jumlah itu meningkat sekitar 300 PKL pada tahun 2005, yakni menjadi sebesar 989 PKL. Data terakhir ini berdasarkan penghitungan yang dilakukan Kantor PPKL Pemkot Solo. Data itu pula yang dijadikan sebagai pijakan Pemkot pada saat memindahkan ratusan PKL itu ke Semanggi satu tahun berikutnya.

Keberadaan PKL di Taman Banjarsari benar-benar membuat taman tersebut kehilangan fungsinya sebagai ruang terbuka hijau. Masyarakat pun tidak bisa beraktivitas seperti sedia kala. Pergi ke Taman Banjarsari berarti untuk berburu barang-barang, bukan untuk menikmati sejuknya udara atau mencari keringat. Bayangkan, ratusan PKL itu membangun kios-kios semi-permanen di sepanjang jalan. Tidak hanya di jalan luar taman, para PKL juga membangun kios yang kondisinya berhimpit-himpitan di dalam taman.

Banyaknya PKL dahulu menyebabkan penyempitan jalan di dalam taman (Kageri)

Banyaknya PKL dahulu menyebabkan penyempitan jalan di dalam taman (Kageri)

Selain barang second, para PKL itu umumnya juga menjual aneka peralatan rumah tangga, peralatan olah raga, pakaian, sepatu, sampai aksesoris kendaraan bermotor dalam bentuk baru. Sebagaimana kawasan PKL di semua kota, masing-masing penjual aneka dagangan itu bercampur menjadi satu. Cuma pedagang pakaian saja yang umumnya memilih berjualan di dalam taman. Pasar Klitikan buka dari pagi hari sekitar pukul 09.00 WIB sampai sore bahkan ada yang hingga malam.

Pengunjung pasar itu pun sangat banyak. Pasar Klitikan di Taman Banjarsari ini boleh dikatakan tidak pernah sepi dari pembeli. Mereka senang datang ke pasar tersebut karena mudah menemukan produk bekas yang masih bagus dan tidak lagi diproduksi oleh pabrikan. Selain itu, mereka bisa membeli barang-barang imitasi yang kadang kualitasnya cukup memuaskan. Harga yang terjangkau membuat mereka semakin dimanjakan. Akan tetapi, ramainya pembeli dirasa membuat pasar semakin langgeng keberadaanya dan semrawut.

Bedhol PKL

Sejak terpilih menjadi Walikota pada periode pertama tahun 2005 lalu, Joko Widodo (47) terus berupaya membenahi kotanya dengan memperbanyak kawasan terbuka hijau di Solo. Pria yang akrab dipanggil “Jokowi” ini membangun area pejalan kaki atau city walk sepanjang 5 Km di Jl Slamet Riyadi, jalan terbesar di pusat kota. Ia juga merombak kawasan Ngarsopuro menjadi ruang publik yang nyaman. Warga Solo banyak mendatangi jalan sepanjang 500 meter tersebut untuk menikmati suasana segar di bawah pepohonan.

Walikota Solo Joko Widodo (Republika)

Walikota Solo Joko Widodo (Republika)

Sebelum itu, pada tahun 2007, lulusan Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta tersebut juga membenahi Taman Balekambang, yang terletak di dekat Stadion Manahan. Taman seluas kurang lebih 10 hektar itu sebelumnya terlantar dan kumuh akibat ditinggal penggelola. Kini, setiap akhir pekan dan hari libur, masyarakat berbondong-bondong berkunjung ke taman tersebut untuk berwisata. Taman yang dibangun pada 1921 itu kini dilengkapi dengan berbagai fasilitas seperti lokasi outbond, wifi, dan panggung kesenian.

Namun, upaya paling fenomenal dari Jokowi adalah pemindahan nyaris 1000 PKL dari Taman Banjarsari. Meski tergolong sebagai Walikota yang baru, nama Jokowi seketika melambung berkat keberhasilan merelokasi para PKL Bajarsari. Di saat seluruh penggusuran PKL di kota-kota di Indonesia berujung pada kekerasan dan kerusuhan, proses pemindahan PKL di Solo berjalan dengan tenang dan lancar.

Bagi Jokowi, apabila dibina dan ditata dengan baik, PKL dapat berkontribusi besar untuk pendapatan daerah. Sektor informal jugalah yang menjadi tiang penyangga kehidupan masyarakat Solo akibat empasan krisis ekonomi 13 tahun lalu. Menyadari akan hal itu, ia melakukan pendekatan persuasif terhadap PKL Taman Banjarsari. Untuk menyakinkan para pedagang agar mau dipindah, Jokowi membuat jamuan makan sebanyak 54 kali dalam tujuh bulan.

Kirab PKL ke Pasar Klithikan Notoharjo (brand929fm)

Kirab PKL ke Pasar Klithikan Notoharjo (brand929fm)

“Kami melakukan pendekatan dengan pedagang kaki lima selama tujuh bulan sebelum melakukan perubahan. Caranya dengan makan siang dan dialog. Ternyata itu berhasil. Pemindahan PKL dari tempat lama tidak perlu memakai buldoser, mereka secara sukarela,” kata Jokowi.

Selain menjamin tidak akan membuat pada pedagang rugi meski pindah ke lokasi baru, relokasi PKL ke Notoharjo juga dilakukan secara terhormat. Ia membuat upacara kirab “Prosesi Budaya Bedhol PKL Monumen ‘45 Banjarsari Ke Pasar Klithikan Notoharjo Semanggi”. Dengan mengendarai kuda dan mengikutsertakan para prajurit Keraton Solo, Jokowi meminpin sendiri kirab yang berlangsung 23 Juli 2006 itu.

“Wajah-wajah keceriaan sangat terlihat dari pada pedagang,” kenang Jokowi.

Nyaman Huni

Sejak terbebasnya Taman Banjarsari dari PKL, para pedagang tidak ada lagi yang berani mencoba mendirikan kios di sekitar taman. Pemkot kini juga memagari sekeliling taman tersebut seperti halnya kompleks Monumen Nasional (Monas) di Jakarta. Hanya beberapa pedagang keliling saja, yang umumnya menjual makanan, yang kadang terlihat ngetem di luar pagar taman. Namun, jumlah mereka tidak terlalu banyak.

Yang lebih penting, pemindahan PKL dari Taman Banjarsari telah menyelamatkan lokasi tersebut sebagai salah satu area terbuka hijau dan paru-paru Kota Solo. Saat ini, area terbuka hijau di Solo mencapai 18,24 persen dari seluruh luas wilayah kota itu yang mencapai 44 Km persegi. Namun, Jokowi masih berambisi bahwa dalam waktu 5 tahun ke depan, Solo akan menjadi sebuah kota di dalam kebun. Lalu, 25 tahun kelak, Solo akan berubah laksana kota di dalam hutan.

Bersantai bersama keluarga

Bersantai bersama keluarga di Taman Banjarsari (Kageri)

Ketika area terbuka semakin banyak, yang terjadi saat ini adalah perbaikan kualitas lingkungan hidup yang sangat pesat di Kota Bengawan. Karena itu, tidak salah bila Majalah Tempo Edisi 3-9 Januari 2011 memilih Solo sebagai kota di Indonesia yang dinilai nyaman untuk dihuni, di samping Sawahlunto, Tegal, Blitar, Banjar Baru, Balikpapan, Tarakan serta Bau-bau. Delapan kota yang terpilih ini dianggap telah tertata secara manusiawi dan bisa menjadi alternatif untuk tinggal serta hidup sejahtera di masa depan.

——————————————————-

Referensi dan foto tambahan:

1. Taman Banjarsari “Sebuah Sejarah Ruang Perkotaan” dari Kawasan Elit Bangsawan Menjadi Kawasan Favorit Pedagang (http://narasibumi.blog.uns.ac.id/2009/04/14/).
2. Inilah Tips Joko Widodo Menata PKL di Kota Solo (Kompas.com, Kamis 18 Juni 2009).
3. Monumen Juang ‘45, tempat digagas SU 4 Hari Kota Solo (edisicetak.solopos.co.id).
4. Melepas Penat di Villa Park Banjarsari (Timlo.net, 31 Agustus 2010).
5. Hunian Belanda di Taman Mangkunegaran (Timlo.net, 4 Oktober 2010).
6. Majalah Tempo Edisi 3-9 Januari 2011.
7. http://www.skyscrapercity.com/showthread.php?t=665348&page=34
8. http://www.republika.co.id/berita/breaking-news/nusantara/10/12/03/150495-solo-dinobatkan-sebagai-kota-terfavorit-wisatawan
9. http://brand929fm.wordpress.com/2010/02/15/kirab-boyongan-pasar-klithikan-banjarsari-ke-pasar-klitikan-notoharjo-semanggi/


TAGS


-

Author

Search

Recent Post