Nasi Besek Bali & ‘Sidang Kabinet’

26 Feb 2011

ultah1

Ini kedua kalinya saya menulis tentang ulang tahun Wakil Presiden Boediono. Itu berarti setahun pula saya ‘menongkrongi’ kantor Pak Boed untuk mencari berita. Ada atau nggak ada berita, tetap saja kantor yang berada di Jl Merdeka Selatan, Jakarta itu, harus ditunggui.

Dan Jumat (25/2/2011), kemarin, adalah ulang tahun Pak Boed ke-68. Seperti pada tahun lalu, Pak Boed juga menggelar syukuran di kantornya. Acara tersebut digelar selepas salat Jumat atau sekitar pukul 13.00 WIB.

Undangannya sama, yaitu para pejabat eselon I dan II Kantor Wapres, protokoler, pasukan pengaman presiden (Paspampers), dan para wartawan. Tidak ada menteri atau pimpinan lembaga negara yang diundang. Tempatnya juga di Gedung II, satu dari dua bangunan berarsitektur Belanda yang berdiri di kantor Wapres.

Yang berbeda, kesan makin sederhana yang terlihat dari prosesi perayaan ultah Pak Boed tahun ini. Tidak ada tumpeng-tumpengan seperti dulu. Undangan hanya diberi nasi besek Bali, air putih, serta buah secukupnya. Ya memang, tetap saja kalau diitung-itung, harga satu paketnya bisa mencapai Rp 50-an ribu. Tapi dibanding prasmanan, tetap lebih murah.

Kedua, penataan ruang untuk acara pada siang itu sangat formal, hahkan terkesan ’salah peruntukan’. Kalau pada acara-acara ultah berdiri atau lesehan, namun di Gedung II itu, meja dan kursi diatur sedemikian rapi dengan area kosong di tengah-tengahnya. Jadi lebih cocok untuk rapat.

Nggak tahu mengapa disain ruangan untuk ultah Pak Boed dibikin seperti itu. Namun, format tempat duduk tersebut menjadi bahan candaan Pak Boed ketika baru masuk ke ruangan dan hendak duduk di kursinya.

“Mari rapat kabinet kita mulai,” kata Pak Boed.

Lontaran canda Pak Boed itu membuat suasana di ruangan tersebut, dari awal hingga selesainya acara, berlangsung hangat. Pak Boed pun makin tertarik untuk berbicara lebih banyak. Bahkan, ia meminta waktu kepada pembaca acara untuk menyampaikan kesan-kesan pada hari spesialnya. Sebelumnya, protokoler bermaksud melanjutkan acara ke salam-salaman.

Dengan santai, Pak Boed pertamakali mengucapkan terimakasih kepada bawahan-bawahannya yang telah mendampingi bekerja. Lalu, ia juga berterimakasih kepada para jurnalis yang ’setia’ meliput di Kantor Wapres.

“Kadangkala tidak ada apa-apa, ya, ditungguin,” ucap Pak Boed yang kala itu mengenakan batik abu-abu.

Selanjutnya, ia bercerita tentang isi khotbah Jumat di Masjid Baiturrahman, Kompleks Kantor Wapres, sebelum acara. Pak Ustadz, kata Pak Boed mengingatkan pentingnya menggunakan mata hati dalam setiap merespons kejadian di luar diri seseorang.

Lalu, ia berkata bahwa orang yang sudah berumur pasti berpikir akan digunakan untuk apa sisa hidupnya. Pak Boed mengungkapkan akan memanfaatkan sisa umurnya untuk mengabdi pada keluarga, negara, dan kemanusiaan. Dan dalam perspektif lebih luas lagi, untuk mendekatkan diri kepada Tuhan.

Sekitar 8 menitan Pak Boed berbicara. Ia juga menyinggung mengenai keberadaan BUD’S Community, komunitas yang berisi orang-orang yang namanya mengandung kata “Budi”. Tiga orang perwakilan ‘BUDS Community’ siang itu juga diundang khusus oleh Pak Boed. Pada saat rampung Jumatan, mereka mencegat Pak Boed dan memberikan kaos berlogo “BUD!”.

Situasi itu berbeda dengan ultah ke-67 Pak Boed. Kala itu, Pak Boed tidak menyampaikan sambutan apa-apa. Acara hanya diisi dengan potong tumpeng dan salaman. Para wartawan pun hanya diizinkan sebentar mewawancarai Pak Boed. Itu juga tidak boleh keluar dari koridor ulang tahunnya. Maklum, saat itu sedang santer-santernya kasus Bank Century.


TAGS


-

Author

Search

Recent Post