Kesehatan Presiden

20 May 2011

sby

Duet pemimpin RI hari-hari terakhir ini disibukkan dengan urusan kesehatan. Presiden SBY, yang sebelumnya digosipkan mengalami stroke, tampil ke publik dengan kondisi segar bugar. Bahkan, ia mengumumkan keberhasilannya melakukan diet. Presiden juga diet, lho.

SBY mengaku berat badannya turun 10 Kg. Namun, ia belum puas. SBY menargetkan dapat turun berat badan lagi sekitar 3-5 kg dalam 5 sampai 8 minggu. Mungkin SBY ingin badannya seperti saat masih aktif menjadi tentara dulu. Atau apalah, tapi ia mengaku memang lebih enerjik.

Lain halnya Wapres Boediono. Badan Wapres tidak terlalu gemuk, jadi tidak perlu menjalani diet. Namun, ia gemar berolah raga, biasanya dengan jalan kaki 5 Km sehari di jogging track Hotel Borobudur dan fitness di bekas kantornya, Bank Indonesia. Boediono dulu gemar bermain tennis, namun tidak lagi ditekuni karena menderita cidera di punggung.

Jumat (20/5), Boediono mengikuti tes dan pekan kebugaran nasional. Ia menjalani tes selama 15 menit dengan beberapa item tes yang dibebankan, seperti sit up dan push up. Hasilnya cukup lumayan. Dokter mengatakan jantung dan paru-parunya sehat. Tekanan darahnya juga normal. Wapres mempunyai lingkar perut yang normal pula.

Kesehatan presiden dan wapres bukanlah hal yang sepele. Jelas saja, hanya dengan bekal kesehatannya itu, ia mampu menjalankan tugas-tugas kenegaraan. Bahkan, salah satu syarat untuk maju sebagai capres dan cawapres saat ini adalah harus lolos tes kesehatan. Kesehatan ini mencakup dua hal, fisik dan mental.

Kesehatan pemimpin negara juga isu politik yang sangat sensitif. Berita tentang kondisi kesehatan Presiden SBY beberapa waktu lalu sempat menimbulkan spekulasi-spekulasi yang liar dan tidak bertanggungjawab. Namun, SBY rupanya cepat memberikan reaksi. Dalam sebuah rapat kabinet, ia membantah isu itu dan menyatakan dalam kondisi prima.

Dalam sejarah, rumor kesehatan seorang presiden turut mewarnai peristiwa politik yang tengah terjadi. Contohnya zaman Presiden Soekarno. Kabar memburuknya kesehatan presiden disebutkan turut mendorong pelaku-pelaku G30S 1965 mengambil tindakan lebih cepat dari yang direncanakan. Saat sakit, Soekarno juga ditangani dokter dari China. Ini dikarenakan di tahun 1960-an itu, Indonesia dekat dengan China dan PKI.

Meski tidak lagi menjabat sebagai presiden, kesehatan dan masa-masa terakhir Presiden Soeharto juga menjadi konsumsi media dan politik. Sesekali kekuatan orde baru muncul dan mengatasnamakan restu dari Soeharto. Tak terhitung berapa kali penguasa orde baru itu keluar masuk rumah sakit sejak lengser pada tahun 1998, sebanyak itu pula media dalam negeri dan asing memantaunya. Pak Harto meninggal pada Minggu 27 Januari 2008.

Foto; SBY dan PM Laos Thongsing Thammavong


TAGS


-

Author

Search

Recent Post