Cinta Kantor Lama

15 Jul 2011

istanawapres

Untuk pertamakalinya, kantor Wakil Presiden akan dipindahkan ke kompleks Istana Negara. Wapres akan menjadi satu atap dengan Presiden di Jl Medan Merdeka Utara.

Selama ini, mungkin sejak era Muhammad Hatta, Wapres berkantor di sebuah bangunan berarsitektur Belanda di Jl Medan Merdeka Selatan. Menurut sejarah, bangunan menghadap ke Monunen Nasional itu adalah bekas istana Perdana Menteri Hindia Belanda bernama Woonhuis. Bangunan tersebut didirikan tahun 1920.

Tidak semegah Istana Negara, Istana Wapres hanya terdiri dari dua bangunan berukuran sedang. Satu untuk ruang kerja Wapres, satu lagi untuk pertemuan dan rapat-rapat besar. Kedua bangunan itu ditunjang oleh dua bangunan baru untuk para pegawai Sekretariat Wapres.

Mengenai kepastian status, banyak orang yang menyebut Kantor Wapres itu bukanlah istana. Kalau pun istana, bangunan tersebut tidak bisa dipisahkan dari Istana Kepresidenan. Jadi tidak ada istana khusus untuk Wapres, yang terpisah dari Istana Negara. Lalu, ada yang cukup menyebutnya dengan Kantor Wapres. Pegawai Wapres sendiri lebih suka menyebut Setwapres.

Yang mana pantasnya? Kalau saya memilih mengambil jalan tengah. Bila ada acara-acara kenegaraan, saya memakai Istana Wapres untuk menyebut lokasi yang diapit oleh Balaikota DKI Jakarta dan Kedubes Amerika Serikat (AS) itu. Namun, bila Wapres hanya menggelar rapat-rapat bersama menteri, maka saya memakai istilah Kantor Wapres.

Kembali ke soal pindahan tadi. Rencana untuk memindahkan ruang kerja Wapres itu sebenarnya sudah muncul sejak era Wapres Jusuf Kalla. Gedung yang dipilih adalah bekas Kantor Dewan Pertimbanan Presiden (dulu Dewan Pertimbangan Agung, DPA). Kantor Wantimpres ini berada di sayap kiri kompleks Istana Negara atau di Jl Veteran, bertetangga dengan Mahkamah Agung.

Sejak tahun 2004 itu, kabarnya, sejumlah perombakan sudah dimulai di kantor Wapres yang baru. Wapres, akan menempati sebuah ruangan di lantai 2. Akan tetapi, hingga era Wapres Boediono sekarang ini, renovasi tersebut belum selesai juga.

Sekitar awal tahun 2011 lalu, ditemani Ketua UKP4 Kuntoro Mangkusubroto, Pak Boed melihat-lihat perkembangan renovasi itu. Ruang kerjanya sudah hampir rampung, hanya tinggal ruang para staf saja yang belum final diperbaiki. Namun, hingga Juli tahun ini, renovasi itu tidak kunjung selesai, sehingga Pak Boed masih berkantor di Merdeka Selatan.

Sebenarnya, banyak yang tidak sreg kalau Wapres harus berpindah tempat kegiatannya ke Merdeka Utara. Keluhan datang dari para pegawai Wapres hingga wartawan. Wartawan alasannya, sepele, jauh dari kantin. Selain itu, gedung yang baru teramat sempit. Jadi kalau acara-acara besar tetap akan digelar di Merdeka Selatan. Konsekuensinya, ya, bolak-balik Merdeka Utara-Merdeka Selatan.

Keluhan para pegawai Wapres juga kurang lebih sama. Lalu bagaimana dengan Pak Boed sendiri? Pak Boed jarang berbicara mengenai pemindahan ruang kerjanya ini. Dalam obrolan santai yang “no news” saja, ia tidak pernah. Namun, minggu pertama Juli kemarin, tiba-tiba saja ia menyinggung soal itu.

“Nanti kita akan ada ruangan juga di sana,” ujar Pak Boed saat mampir ke pressrom usai berjalan-jalan keliling kantornya. Pak Boed membenarkan, kemungkinan besar, kegiatannya akan dibagi separuh-separuh antara Merdeka Selatan dan Utara.

Namun, Pak Boed rupanya satu suara dengan pegawai Wapres dan wartawan. “Adik-adik suka di mana?” tanya Pak Boed. “Kalau Pak Boed sendiri?” tanya balik wartawan. “Kalau saya lebih suka di sini,” jawab Pak Boed.

Meski mau tidak mau nantinya ia harus menghuni ruang kerja baru, Pak Boed sebenarnya sudah cukup nyaman berkantor di tempat sekarang ini. Setiap pagi pukul 09.00 WIB, ia sudah berada di kantor tersebut. Sore hari, bila sudah tidak ada kegiatan, ia pulang ke Kediaman Dinas di Jl Diponegoro.

Memang banyak dimensi yang muncul dari rencana kepindahan kantor Wapres ini. Ada yang berpandangan, dengan menyatu dengan Istana Negara, Wapres akan lebih mudah berkoordinasi dengan bos-nya. Kalau dipanggil, ya, cukup dengan jalan kaki saja, tidak perlu mengendarai mobil penuh pengawalan.

Tapi ada pula yang menduga, kepindahan itu agar Presiden lebih mudah ‘mengawasi’ dan ‘mengontrol’ wakilnya. Pendapat ini tidak bisa dianggap enteng, sebab Pak Boed memang sudah cukup lama dikenal sebagai pembantu presiden dalam arti seutuhnya. Pak Boed jarang tampil di publik, lantaran salah satu sebabnya ‘dilarang’ oleh presiden.

Mungkin karena itu juga, seorang pegawai wapres sedikit khawatir ketika keterusterangan Pak Boed soal kepindahan kantornya itu ditulis wartawan. “Kok pas Pak Boed bilang lebih suka di sini ditulis, sih? Nanti kalau Pak Boed ditegur sama SBY gimana?” kata pegawai itu.

Foto:http://enkrenkdmt.blogspot.com


TAGS


-

Author

Search

Recent Post