Bertemu Prof Janet Steele

19 Aug 2011

janet-steeleTiga hari pertemuan, masing-masing kurang lebih 3,5 jam sehari, rasanya memang belum cukup. Masih banyak ilmu yang bisa ditimba dari seorang Prof Janet Steele, dan, tentu saja untuk lebih dekat mengenalnya.

“Namun, Saya tidak terlalu enak kalau ada yang bilang mau menimba ilmu dari Saya, karena kita sama-sama belajar,” ungkap Janet saat sesi perkenalan dengan peserta training jurnalistik naratif (narrative journalism) selama 3 hari di @america, Pusat Kebudayaan Amerika Serikat (AS), di Mal Pacific Place, pertengahan Agustus ini.

Kesan pertama saat bertemu dengan Assosiate Professor of Journalism at The School of Media and Public Affair at George Washington University ini adalah wanita yang ramah dan murah senyum. Janet juga seorang yang demokratis, namun amat menekankan kedisplinan.

“Biarpun macet alangkah lebih baik kalau Anda datang tepat waktu,” pintanya.

Janet sangat fasih berbahasa Indonesia. “Saya tidak pernah belajar secara resmi, tapi Saya punya mentor yang mengajari Saya bahasa Indonesia,” tutur dia.

Janet memang sudah lama akrab dengan kehidupan di Indonesia, khususnya Kota Jakarta. Ia datang pertama kali ke Indonesia pada tahun 1997. “Jadi Saya tahu saat-saat ketika Pak Harto turun,” kata perempuan berambut sebahu ini.

Sejak saat itu, ia banyak bergaul dengan praktisi media massa di Indonesia. Janet bergabung Jurnal Pantau yang didirikan oleh Andreas Harsono. Di situ, Janet sering memberikan pelatihan jurnalistik naratif kepada para jurnalis muda.

Prof Janet pernah menulis buku tentang sejarah Tempo dengan judul “Wars Within: The Story of Tempo, an Independent Magazine in Soehartos Indonesia” (2005). Janet juga sempat mengajar di Universitas Indonesia bidang Studi Amerika dan dosen tamu pada Lembaga Pers Dr Soetomo.

“Saya juga pernah menulis kolom ‘Email dari Amerika’ setiap minggu di Harian Surya Surabaya,” kenangnya.

Hingga kini, Janet masih sering ke Indonesia. “Saya di Indonesia bulan Juli-Agustus atau Juli Januari,” ungkap peraih PhD bidang sejarah dari John Hopkins University ini.

Selain di Indonesia, waktu Janet juga banyak dihabiskan untuk mengunjungi negara-negara di Asia Tenggara lainnya, antara lain Malaysia. Janet memang cukup ahli tentang perkembangan media di negara berkembang.

Di Asia Tengara pula ia banyak mempromosikan tentang jurnalisme naratif, sebuah aliran jurnalisme yang mulai dikembangkan oleh Tom Wolfe di AS tahun 1960-an. “Saya sangat tertarik dengan perkembangan media di Asia Tenggara,” cetusnya.

Seperti ditulis di muka, meski seorang profesor, Janet tidak menggunakan metode satu arah dalam belajar. Setelah sedikit memberikan contoh tulisan jurnalistik naratif, ia lebih banyak mengajak peserta untuk berdiskusi. Setiap peserta bebas mengemukakan pendapatnya masing-masing.

Tulisan yang dia berikan sebagai bahan pun ada yang merupakan karya jurnalis Indonesia sendiri. Seperti misalnya “Dua Jam Bersama Hasan Tiro” hasil liputan wartawan Tempo Arif Zulkifli dan “Kegilaan di Simpang Kraft” buah tangan Chik Rini. Tulisan terakhir berkisah tentang penembakan massal di Aceh oleh TNI tahun 1999.

Tidak hanya teori, Janet juga memberikan pekerjaan rumah kepada peserta untuk membuat tulisan bergaya naratif sebanyak 1 halaman. Tulisan itu lantas dibahas bersama-sama. Semua tulisan, katanya, pada dasarnya bagus. Namun, dia memberikan opsi-opsi mengenai struktur dan angle yang bagus pada sebuah tulisan jurnalistik naratif.

Pada setiap sesi, Janet selalu mengungkapkan bahwa jurnalistik naratif patut mendapatkan tempat baik di media cetak, televisi, radio, dan online di Indonesia. Ia menginginkan agar dalam dunia “breaking news” seperti sekarang ini, para wartawan mau mencoba gaya penulisan yang baru seperti halnya narrative journalism.


TAGS


-

Author

Search

Recent Post