img_33711

Hari masih pagi buta. Habis makan sahur, saya dan teman-teman yang ikut menteri PDT ke Maluku Utara menaiki mobil ke Pelabuhan Tobelo, Halmahera Utara, awal Agustus 2011 lalu. Di sana sudah ada speedboat yang menunggu.

Penyeberangan memang harus dilakukan sebelum fajar menyembul. Alasannya, kalau makin siang, ombak di laut pasifik sangat tinggi, dan itu berbahaya bagi kapal-kapal kecil.

Tidak lama berselang, tibalah mobil di pelabuhan. Karena masih pagi, pintu ke ke pelabuhan kecil itu masih ditutup. Terpaksa lewat jalan memutar. Setelah itu menyusuri jalan kayu di atas air menuju speedboat.

“Awas hati-hati. Perhatikan tangga masuk perahu,” kata pemilik speedboat sambil memberikan sorot lampu senter sebagai penuntun penumpang masuk ke dalam speedboat-nya.

Dengan mata terkantuk-kantuk, saya melangkah masuk ke dalam speedboat. Wah, rupanya di dalam speedboat yang gelap gulita itu sudah duduk banyak penumpang. Sebagian ada yang melanjutkan tidur, sebagian lagi terjaga dengan bau minyak tanah menyedak hidung.

Masyarakat setempat memang suka memakai minyak tanah sebagai bahan bakar perahu mereka. Di kawasan timur Indonesia, minyak tanah masih melimpah. Harganya pun murah meriah. Tapi, untuk memancing supaya mesin mau menyala, diperlukan bensin.

img_3344

Sekitar pukul 04.30 WIT, speedboat bertolak meninggalkan Tobelo. Angin laut yang pekat perlahan-lahan menerpa penumpang dari jendela yang dibiarkan terbuka.

Perjalananan ke Pulau Morotai membutuhkan waktu dua jam. Namun, bila menggunakan speedboat dengan mesin bertenaga 200 PK, Morotai dapat dijangkau dalam waktu lebih cepat. “Tentu saja bayarnya lebih mahal,” kata penumpang di sebelah saya, yang biasa pulang pergi Tobelo-Morotai.

Ah, semakin tidak sabar saja rasanya untuk menginjakkan kaki di Bumi Moro, sebutan bagi pulau yang jaraknya ribuan kilo meter dari Ibu Kota Jakarta itu. Terbayang-bayang pulau yang sunyi, namun memiliki keindahan alam nan mempesona.

Lebih dari itu, rasa penasaran untuk segera melihat jejak peninggalan Perang Dunia II di Morotai makin tak tertahankan. Ya, Morotai pernah menjadi saksi pertempuran dahsyat antara Jepang melawan sekutu yang dikomandoi Amerika Serikat (AS) dan Australia.

Tahun 1943, aliansi pasukan AS-Australia menaklukkan Morotai yang sebelumnya dikuasai Jepang. Lalu, Jenderal Douglas McArtur membangun pangkalan militer di pulau itu untuk melancarkan serangan terhadap tentara Jepang di Filipina. Total ada 200.000 pasukan sekutu yang ada di Pulau Morotai kala itu. Banyak sekali bukan?

Kini, masih bisa dijumpai berbagai macam warisan PD II di Morotai. Antara lain landasan pacu berjumlah 7 runway, pangkalan laut AS, tempat mandi Jenderal McArtur, dan ribuan bangkai tank, pesawat terbang, kapal perang, meriam, senjata api, topi serdadu, dll. Benda-benda tersebut ada yang berada di darat dan ada yang terbenam di laut Morotai.

img_3348

Meski tergolong kecil, speedboat yang saya tumpangi membelah selat Moro dengan kencang. Penumpang di dalam terantuk-antuk kala kapal menyibak ombak. Bosan di dalam, saya pun naik ke atap. Seolah tak mempedulikan bahaya naik di atas kapal yang melaju kencang. Pemilik kapal tak henti-hentinya mengingatkan agar berhati-hati.

Saya betul-betul menikmati tiap ketegangan yang muncul dalam penyeberangan itu. Angin laut terasa sangat kencang. Pemandangan pagi di tengah lautan sangat memukau. Ada banyak pulau di kejauhan sana. Kecil-kecildan tidak berpenghuni. Sayangnya, tidak seperti di Raja Ampat, Papua, pulau-pulau di Maluku Utara tidak punya bentuk yang unik alias biasa saja. Sekujur areanya banyak ditumbuhi pohon-pohon.

img_3352

Kalau beruntung, sebenarnya penumpang bisa melihat ikan lumba-lumba yang berkejaran di samping speedboat. Namun, pagi itu, ikan bermulut monyong tersebut tidak terlihat sama sekali. “Masih tidur kali ya?” kata rekan saya sambil tertawa senang. Hanya tampak ikan-ikan kecil yang berlompatan di atas ombak. Lalu, sejumlah burung camar yang terbang di langit.

2 Jam berlau, speedboat yang saya naiki akhirnya tiba juga di Pelabuhan Morotai. Langit di belahan timur tampak memerah, tanda sebentar lagi sang surya menyapa. Pelabuhan itu sudah dipenuhi hiruk pikuk orang-orang. Ada kapal besar yang tengah bersandar. Lalu, kapal kayu rute Morotai-Ternate juga tengah melepas jangkar di pelabuhan. (bersambung)


Jadilah orang pertama yang menyukai tulisan ini
Apakah anda menyukai tulisan ini ?
Share and Enjoy:
  • Facebook
  • Google
  • TwitThis
  • YahooMyWeb