Lelaki di Tepi Danau

21 Nov 2011

situ

Setibanya di pinggir danau, lelaki itu bergegas duduk di atas bebatuan. Di depannya, sejajar perahu kayu tampak terapung-apung. Namun, bola mata lelaki itu tak begitu tertarik. Pandangannya menyorot jauh ke kabut yang rebah ke permukaan air danau.

Ia buka baju tebalnya sambil tak henti memandang ke tengah danau, berharap pulau kecil itu menampakkan rupanya. Hawa dingin pegunungan menyergap tubuhnya secara perlahan.

Tapi, kabut memang belum mau menyingkir. Satu-dua perahu kecil membawa pelancong berlayar menembus kabut itu, seperti berpetualang ke negeri antah berantah dan tak pernah kembali.

Hari sudah beranjak petang. Langit juga terlihat mendung. Bagaimana jika jubah hitam alam tak memberi pilihan selain meninggalkan danau dengan kecewa? Seperti inikah dulu ketika lelaki yang bernama Santang membuat danau itu? Serasa diburu waktu? Pikirnya.

Ah, pasti tidak. Bukankah danau ini adalah buah dari kesabaran? Tak terhitung lamanya Santang dan Dewi Rengganis berpisah. Saling menanggung rindu, saling mencari. Perjalanan cinta yang sulit. Hingga suatu hari, keduanya dipertemukan kembali di tempat ini, menjadi danau yang luas ini.

Adalah air mata penantian Santang dan Rengganis yang menjelma menjadi air di danau. Lalu, pulau yang ingin disaksikan oleh lelaki itu, adalah perahu Santang yang dipersembahkan untuk berlayar bersama sang dewi ciptaan semesta.

Hmmn, seandainya kabut bisa diajak bercakap, tentu akan dirayunya untuk sekilat menghilang. Lelaki itu menghela nafas. Biarlah kupandang engkau dengan seluruh, dengan romantika cerita tentang danau ini, gumamnya.

Namun, ia tetap yakin penantiannya tidak akan sia-sia, seperti keriangan Santang dan Rengganis ketika duduk berdua di batu cinta, di tengah-tengah pulau. Lelaki itu menunggu.

Foto lokasi: Situ Patengan/Patenggang, Ciwidey, Bandung Selatan


TAGS


-

Author

Search

Recent Post