Naik Kopaja Rp 8.500

6 Feb 2013

e5f32478d1d30ba72f6e3fb4afb03945_kopaja

Ini nasib sial karena kebodohan, tapi juga karena sistem pembayaran sarana angkutan di DKI Jakarta yang belum tertata.

Saya naik Kopaja P 20 AC Rabu (6/2/2013) rute Lebak Bulus-Senen. Itu, lho, bus kota baru yang berpendingin udara.

Bus itu tarifnya Rp 5.000 sekali naik. Sejak beberapa waktu lalu, bus ini diperbolehkan masuk ke jalur Bus TransJakarta oleh Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo.

Jadi, di lajur khusus tersebut, penumpang bisa naik dan turun, laiknya naik TransJ. Sedangkan di luar busway, Kopaja akan melayani penumpang seperti Kopaja ‘rongsokan’ lainnya.

Nah, bagi yang naik melalui halte busway, tarifnya Rp 5.000. Ada dua tiket di loket TransJ, yakni tiket Kopaja dan TransJ. Tinggal pilih mau naik yang mana.

Tiket Kopaja eksekutif itu, bisa untuk naik TransJ. Jadi, kalau Anda naik Kopaja dari jalur biasa, terus turun di halte untuk sambung ke koridor lainnya, penumpang tak dipungut bayaran lagi.

Nah, yang masalah kalau ada penumpang bertiket TransJ, tapi salah naik Kopaja, yang tiketnya lebih mahal Rp 1.500. Itu lah yang saya alami.

Awalnya keneknya diam. Saya juga tenang-tenang saja menikmati AC bus yang (tak) dingin. Lalu, si kenek mengicrik-icikkan uang di tangannya, tanda meminta ongkos. Dalam hati, oh masih harus bayar.

Saya rogoh Rp 10.000. Saya pikir si kenek minta tambah Rp 1.500. Ternyata yang dikembalikan hanya Rp 5.000. Jadi total ongkos yang dikeluarkan untuk naik bus sekali jalan itu Rp 8.500. Sama kayak tarif Bekasi-Jakarta.

Penumpang di sebelah saya, yang sama-sama naik dari Halte TransJ, juga begitu. Ditarik juga Rp 5.000 lagi. Sama, kita bingung. Tapi juga nggak mampu berkata apa-apa.

“Ya sudah lah. Pengalaman pertama naik Kopaja AC.” Tulis saja nanti siapa tahu ada pembaca yang ingin naik Kopaja eksekutif itu. Jadi tidak mengalami nasib seperti sial seperti saya.hehe.

Ilustrasi:http://www.rmol.co


TAGS


-

Author

Search

Recent Post