Menyalahkan Rakyat

4 Mar 2014

150569a6ddb04011f4e86bc16aa96870_soloposcom

Demokrasi sering diartikan sebagai pemerintahan dari, oleh, dan untuk rakyat. Saya sudah dijejali teori itu sejak masih sekolah.

Padahal sebetulnya yang terjadi tidak seperti itu, waktu itu. Zamannya Pak Harto demokrasi ya dari rakyat, oleh rakyat, untuk Pak Harto.

Rakyat disuruh memilih Golkar, lalu Pak Harto jadi presidennya. Tiga dasawarsa lamanya. Memang, pembangunan terlihat. Tapi rakyat dapat keuntungan sedikit.

Di zaman Pak Karno, berlaku namanya demokrasi terpimpin. Demokrasi dari, oleh, dan untuk Pak Karno sendiri.

Dalam pemahaman Pak Karno, demokrasi harus dikawal oleh seorang pemimpin. Boleh bermusyawarah, tapi kalau deadlock, keputusan diambil oleh pemimpin.

Tidak ada pemilu setelah pemilu pertama (1955) sampai berakhirnya kekuasaan Pak Karno itu. Rakyat cuma menonton.

Lalu bagaimana sekarang? Demokrasi itu tumbuh berkembang. Partai berjibun, pastisipasi masyarakat juga meningkat, meski yang golput masih tak kalah banyak.

Tapi rakyat juga kembali apes. Rakyat disodori banyak caleg yang karbitan dan bodoh. Asal punya uang dan tubuh semlohay, jadilah itu barang (baca caleg). Tanpa peduli integritas, apalagi visi misi.

Pada akhirnya, mereka terpilih (Semoga saja tidak), dan tidak juga membuat perubahan. Tidak bekerja. Hanya membuat aneka keributan sehingga ujung-ujungnya di Badan Kehormatan (BK) DPR.

Siapa yang disalahkan? Partai? bukan. Ya rakyat. Mengapa rakyat memilih caleg-caleg itu? Rakyat kita pun ‘dididik’ untuk merasa bersalah itu. Sering dengar di masyarakat “Duh, salah pilih aku” kan?

Jadi, demokrasi sekarang itu dari rakyat, oleh rakyat, untuk rakyat, dan menyalahkan rakyat.

(biar blog nggak nganggur lama,hehe)

Ilustrasi: solopos.com


TAGS


-

Author

Search

Recent Post