• 12

    Oct

    Sekilas Menonton "The Year of Living Dangerously" di HBO

    Ada yang pernah menonton film berjudul “The Year of Living Dangerously”? Saya makin penasaran untuk menyaksikan film yang berlatar belakang situasi politik Indonesia (tepatnya Jakarta) tahun 1965 itu secara utuh. Terus terang, saya baru tahu adanya film tersebut dari tayangan HBO pada Selasa (12/10). HBO memutarnya 12 hari setelah peringatan tragedi G30S. Entah mengapa meski pelarangan film itu telah dicabut sejak 1999 lalu, HBO tidak memutarnya pada tanggal 30 September atau 1 Oktober? Namun demikian, film yang dilarang orde baru dengan alasan menggambarkan sejarah yang tidak sesuai ini tetap relevan ditayangkan. Saya jadi membayangkan film ini sejajar, walau kandungan isinya tentu jauh berbeda, dengan film “Pengkhinatan G30S/PKI”. Sama-sama kontroversi dan menim
    Read More
  • 28

    Jul

    Sepotong Kisah Kehadiran Mikrolet di Jakarta Tahun 1980

    Dok Detikcom Saya masih menyelesaikan membaca buku “Manusia & Keseharian, Burung-burung di Bundaran HI”, yang merupakan kumpulan feature karya Sindhunata. Tulisan-tulisan yang dibuat sepanjang tahun 1978-1993 itu sangat menarik untuk disimak. Seperti yang dikesankan oleh editornya, buku setebal 158 halaman ini laiknya album nostalgia untuk mengenang Jakarta beberapa dasawarsa lalu. Bagi saya, kumpulan tulisan pemred majalah filsafat BASIS di Yogyarakarta ini sebagian merupakan rekaman sejarah Jakarta, khususnya sejarah perkotaan. Sebagai wartawan Kompas saat itu, Sindhunata berhasil memotret kehidupan sosio-kultural warga Jakarta dengan sangat obyektif. Sedangkan tulisan lainnya merupakan catatan yang jauh lebih ke belakang dari tema yang sedang ditulis Sindhunata wak
    Read More
  • 25

    Apr

    Dan Nur Menebus Impiannya

    Perayaan hari Kartini tahun ini rasa-rasanya bertambah lengkap dengan hadirnya film ini. Sebuah film yang mengisahkan tentang perjuangan seorang perempuan. Keinginannya tidak muluk-muluk seperti menjadi kepala daerah atau anggota DPR. Ia hanya ingin membantu sang ibu. Tapi siapa sangka, berkat usaha kerasnya, ia mampu meraih kesuksesan yang berlipat-lipat. Film berjudul “Menebus Impian” garapan sutradara Hanung Bramantyo ini cukup mengena untuk menggambarkan semangat Kartini dalam jiwa perempuan-perempuan masa kini. Kemandirian, pendidikan yang tinggi, karir yang cemerlang, serta kehidupan cinta yang menggairahkan, adalah idealisme perempuan di era modern. Memang, pandangan miring tentang film berdurasi 120 menit itu tidak bisa disingkirkan begitu saja. Melalui film ini, Hanu
    Read More
  • 26

    Mar

    Langitku Rumahku, Menonton Kembali Film Terbaik Era 80-an

    Andri & Gempol (monash.edu.au) Memang layak apabila film ini mendapatkan penghargaan tertinggi bagi insan perfilman Indonesia saat itu. Ceritanya terasa menyentuh disertai dialog-dialog yang lucu. Visualisasinya pun sangat menarik, mengingatkan kembali akan wajah Kota Jakarta dua dekade silam. Film berjudul “Langitku, Rumahku” itu meraih Piala Citra pada tahun 1989. Film produksi Eka Praya ini disutradarai oleh Slamet Rahardjo dengan Erros Djarot sebagai penata musiknya. Hampir 21 tahun berlalu, film tersebut kembali diputar di ajang festival film bertema “Sejarah Adalah Sekarang” di Taman Ismail Marzuki (TIM), pekan ini. Acara ini diselenggarakan oleh anak-anak muda pecinta film yang tergabung dalam Kineforum. “Langitku, Rumahku” bercerita tenta
    Read More
  • 22

    Mar

    Segera Revisi UU Pelarangan Buku!

    Membaca tulisan John Roosa berjudul “Pelarangan Buku di Indonesia: Hempasan dari Masa Lalu”, yang dimuat website Institut Sejarah Sosial Indonesia (ISSI), saya merasa tergelitik. Ia tidak cuma memprotes pelarangan buku karangannya dengan sangat lugas namun juga dibumbui sindiran yang cukup mengena kepada Kejaksaan Agung. “Kejaksaan Agung tidak melaksanakan seluruh pasal dari UU No 4. Penerbit seharusnya mengirimkan buku-buku mereka ke Kejaksaan Agung dalam waktu 48 jam setelah diterbitkan. Tak seorang pun melakukan hal itu sekarang. Hukuman bagi pengedaran buku terlarang dapat berupa pidana penjara sampai satu tahun atau denda sebesar Rp 15.000,00. Saya pilih membayar denda saja, terimakasih,” katanya. Ya, bukunya berjudul “Dalih Pembunuhan Massal: Gerakan 3
    Read More
-

Author

Search

Recent Post