• 19

    Aug

    Bertemu Prof Janet Steele

    Tiga hari pertemuan, masing-masing kurang lebih 3,5 jam sehari, rasanya memang belum cukup. Masih banyak ilmu yang bisa ditimba dari seorang Prof Janet Steele, dan, tentu saja untuk lebih dekat mengenalnya. “Namun, Saya tidak terlalu enak kalau ada yang bilang mau menimba ilmu dari Saya, karena kita sama-sama belajar,” ungkap Janet saat sesi perkenalan dengan peserta training jurnalistik naratif (narrative journalism) selama 3 hari di @america, Pusat Kebudayaan Amerika Serikat (AS), di Mal Pacific Place, pertengahan Agustus ini. Kesan pertama saat bertemu dengan Assosiate Professor of Journalism at The School of Media and Public Affair at George Washington University ini adalah wanita yang ramah dan murah senyum. Janet juga seorang yang demokratis, namun amat menekankan kedis
    Read More
  • 16

    Jul

    Koran Cepat Detikcom

    Jumat petang, (15/7), kemarin, beberapa reporter dan redaktur detikcom yang berada di ruangan baru menyerbu ke meja Pemimpin Redaksi Pak Budiono Darsono. Di tangan Pak BDI, biasa ia disapa, tampak sehelai surat kabar lama. Koran itu lah yang menjadi pusat perhatian. Namanya detikcomSiang. Hampir seluruh awak redaksi penasaran dengan koran itu, kecuali tentu saja generasi awal detikcom. Bahwa pada perjalanannya, ternyata detikcom pernah melahirkan koran. Jadi menurut cerita empunya detikcom itu, koran detikcom pernah terbit pada tahun 2001. Jumlah halamannya, kalau saya tidak salah mendengarkan, 8 halaman. Koran terbit dua kali sehari, yakni pada siang dan sore hari. Saat itu, Pak BDI cuma menunjukkan detikcomSiang koleksinya. Harga koran tersebut Rp 900. Di atas judulnya ada tagline,
    Read More
  • 4

    Oct

    Twitter sebagai Sumber Informasi

    Memelototi time line twitter saat ini menjadi sesuatu yang wajib bagi wartawan, apalagi wartawan media online. Mem-follow public figur atau newsmaker yang mempunyai akun di situs mikroblogging itu juga menjadi keharusan. Bila mau, wartawan bisa mem-follow sebanyak berapa pun orang di luar sana. Kenapa? Jawabannya sangat mudah. Karena “kicuan-kicauan” yang diunggah di twitter merupakan salah satu sumber informasi penting dan cepat. Informasi tersebut berbentuk opini dari tokoh publik maupun sebuah peristiwa, yang tentunya harus mempunyai nilai jurnalistik. Kalau tidak, ya, cukup menjadi bahan referensi saja. Berikut contoh opini di twitter yang dimaksud itu: Staff Khusus Presiden Bidang Bencana Alam dan Bantuan Sosial Andi Arief melalui akunnya, @AndiAriefNew, mengatakan ̶
    Read More
-

Author

Search

Recent Post