• 24

    Feb

    Menulis Artikel Sejarah

    Ada cerita, gara-gara menulis opini di Harian Kompas tentang ekonomi tahun 1980-an, Wakil Presiden Boediono diminta oleh Menteri Bappenas saat itu untuk menjadi deputi di Bappenas. Inilah karir pertama Pak Boed di dunia pemerintahan. Ia menjadi Deputi Ketua Bidang Fiskal dan Moneter Bappenas (1988-1993). Menulis artikel, paper, atau materi seminar barangkali memang kesukaan Pak Boed waktu aktif mengajar di UGM. Ia juga telah mengarang sejumlah buku yang berisi kumpulan tulisan-tulisannya. Salah satunya berjudul “Ekonomi Indonesia, mau Dibawa Ke Mana?” terbitan tahun 2007. Kini setelah menjadi Wapres, hobi menulis Pak Boed rupanya tidak hilang. Selain karena memang harus memberikan pidato di acara resmi, ia masih menyempatkan waktu untuk menulis artikel. Mungkin ini dilakuka
    Read More
  • 20

    Jan

    Sekali Menyebut "Gayus"

    Empat hari lalu, Senin (17/1/2011), Presiden mengeluarkan instruksi penanganan kayus Gayus Tambunan yang cukup mengejutkan. Ia menugasi Wakil Presiden Boediono sebagai pengawas pelaksanaan inpres atau penanganan ‘gurita’ kasus tersebut dengan dibantu Satgas Pemberantasan Mafia hukum. Banyak pihak yang menyayangkan penunjukkan Pak Boed dalam posisi itu. Apakah ia yang seorang ahli ekonomi mampu bekerja menuntaskan kasus Gayus? Tidak sedikit pula yang merasa kecewa, terutama mereka para anggota di parlemen. Bagaimana mungkin seorang wapres, yang juga sedang tersandung kasus hukum, mengawasi penanganan kasus lain? Di samping itu, Presiden SBY pun dinilai cuma melempar handuk kepada Pak Boed. Bicara banyak, pada akhirnya, Wapres yang disuruh bekerja. Ini tidak cuma sekali terja
    Read More
  • 17

    Jan

    Tanpa Senyum & Lambaian Tangan

    Ada yang sedikit berubah dari kebiasaan Wapres Boediono, Kamis (13/1/2011). Bila sebelumnya ia selalu melempar senyum dan melambaikan tangan kepada wartawan saat keluar dari Gedung II untuk memimpin rapat, hari itu tidak ada. Bersama Juru Bicaranya, Yopie Hidayat, Pak Boed tampak serius mengobrol. Tak sekali pun ia menoleh ke wartawan yang berjejer di samping koridor tepatnya berjalan kembali ke ruang kerjanya di gedung utama. Padahal, belasan wartawan saat itu sudah menunggu untuk berbalas sapa dengan Wapres. Berbalas sapa? Ya, karena Pak Boed tidak mau dicegat untuk diwawancarai, bila bertemu, antara wartawan dan dia hanya saling bertegur sapa saja. Biasanya Pak Boed yang menyapa lebih dulu sambil melambaikan tangan. “Selamat siang,” ucap Pak Boed yang selalu tampil sede
    Read More
  • 3

    Jan

    Sempat Menganggur

    Sebagaimana pengalaman hidup yang dialami sebagian besar masyarakat Indonesia, Wakil Presiden Boediono rupanya pernah tercatat sebagai pengangguran. Padahal, selintas karir akademiknya sebagai dosen maupun pejabat negara mulus bak berjalan di jalan tol. Terlebih sekarang menjadi orang nomor 2 di Indonesia. Perihal sempat menganggur itu diungkapkan Pak Boed ketika bertemu dengan puluhan ilmuwan Indonesia yang bekerja di luar negeri pada Kamis (16/12/2010), lalu. Para ilmuwan tersebut hendak mengadakan konferensi pertama di Jakara. Kepada para ilmuwan, Pak Boed awalnya berharap mereka pulang ke Indonesia, membangun tanah air. Namun, ia tidak mau memaksa, sebab kalau mereka merasa keadaan di dalam negeri belum memungkinkan, ya, buat apa pulang. Daripada keahlian dan kemampuan mereka terbeng
    Read More
  • 16

    Dec

    Pemberitaan Pak Boed Akan Dianalisa?

    Sebagai bagian yang berhubungan dengan media massa, Biro Pers Istana Wakil Presiden (Wapres) tidak hanya memfasilitas wartawan peliput kegiatan RI 2. Mereka juga membaca sekaligus mendokumentasikan berita-berita dari berbagai surat kabar. Tentunya, berita yang dikoleksi seputar aktivitas resmi Wapres sekarang, Boediono, saban harinya. Begitu pula dengan kegiatan yang dilakukan oleh istri Wapres, Ibu Herawati Boediono, meski terbilang jarang. Karena itu, setiap pagi, setumpuk koran diangkut ke Biro Pers Istana Wapres. Tidak tahu siapa yang bertugas membeli dan mengantarkan ke ruangan tersebut. Ruangan Biro Pers ini berada di sambungan gedung II atau di sayap kanan Istana Wapres. Setiap judul koran yang dibeli, tidak hanya berjumlah satu eksemplar saja, namun sekitar 3-4 eksemplar. Kata
    Read More

Author

Search

Recent Post